Seperti sedang mengeja.

Di sepertiga malam dan temaram neon di ruangan 3×3 meter.

Perihal nama-nama yang kian lama kian pudar.

Tapi tak berlaku untukmu.

Sepertinya tak perlu aku berusaha keras, adalah benar jika bayangmu memiliki segulung peta dan kompas untuk selalu pulang.

Melalui jembatan dan ujung hidungmu.

Bola mataku blingsatan.

Selalu gugup ketika kau mengetuk pintu.

Halo, spada.. Ada orang didalam.

Suaramu tak pernah berubah, aku hafal benar.

Semuanya!

Mulai dari patukan bibirmu, lidahmu yang menari penuhi mulutku.

Pelukanmu pengganti selimut di sela malam.

Kecupan dikeningku ketika aku tertidur dengan mulut setengah menganga.

Adakah yang lebih indah selain menatapmu di pagi hari dengan separuh muka berkerut kain sprei dan tangan di bawah bantal?

Sialan, ingatan ini mengerak didasar kepala!

Rambutmu yang tergerai sebahu, senyum teduh ala seorang ibu.

Atau Ana Sui Dream yang bertengger di kerah baju dan lehermu.

Bunga lili, mawar, kayu cedar.

Bahkan nama-nama gang di sekujur tubuhmu aku mengingatnya senti demi senti.

Dari gang bougenville 2 hingga  yudhistira.

Ah sial, setapak selalu membawamu pulang.

Hanya bayanganmu, tak lebih.

Sisanya? tak perlu kuterka lagi.

Bukan milik siapa-siapa.

Hanya senja dan rerumputan yang bisa memilikimu.

Kau suka menyendiri.

Berkawan angin, menggandeng pepohonan, bersuami senja.

Terlebih lagi ketika gerimis menari di pelataran.

Sudut gelap mataku pun tahu jika kau sedang berjingkat ikut merayakan bersama rerintik disana.

Memang benar malam ini aku sedang mengejamu puan.

Dibalik tikar dan rimbunnya bantal.

Chéri, tu me manques.
Purwokerto, 22 Agustus 2016