Aku-lah Sang Kutu

Embun runtuh perlahan.

Waktu bergulir sebegitu cepat, aku tergopoh-gopoh.

Jangan! Jangan akhiri malam ini!

Aku masih menikmati Chopin dan gula-gula serta senyum manismu.

Aku masih tersesat di dalam rimba rambutmu.

Aku-lah sang kutu.

Jangan ganggu aku, jangan sisir aku. Biar aku menemanimu, aku bersumpah atas nama moyangku! aku tak kan pernah menghisap darah dari batokmu.

Aku hanya ingin menemanimu, duduk diantara rimbun rambut kepalamu.

Purwokerto, 13 Juni 2016

Bayangan Kecil di dalam Bingkai

Didalam tiap goresan pena.

Di rengkuh angkuhnya kibasan kuas.

Di bingkai-bingkai yang retak diujungnya.

Aku terdampar didalam kanvas.

Mengunyah sisa-sisa remah roti.

Beradu pandang pada tiap mata yang binal mencariku.

Aku sembunyi diantara rimbunya akar.

Aku masuk dalam belantara rambut si-puan.

Aku biarkan tubuhku terbakar di pelipir karang, di ujung dermaga.

Dan berharap selamanya tak kan terjamah.

Purwokerto, 14 Juni 2016

Bisu

Aku menjadi si bisu.

Di bisu ku aku bercerita.

Di bisu ku aku bercinta.

Di bisu ku aku menari.

Di bisu ku aku bernyanyi.

Di bisu ku aku menangis.

Di bisu ku aku berkelakar.

Di bisu ku aku berlari.

Di bisu ku aku memutar waktu.

Di bisu ku aku ada.

Di bisu ku aku pun hilang.

Lenyap.

Purwokerto, 13 Juni 2016

Aku tak menamai ini rindu

Ah.. perasaan apa ini? Selalu saja seperti ini, menggebu-gebu.

Tiba-tiba, tak terduga.. Seperti bom waktu, bisa meledak kapan saja.

Seperti rentetan bulir-bulir hujan berbondong-bondong menghujamku.

Seperti deras arus ombak pantai selatan menghantam tiap-tiap karang di pinggiran pantai.

Rasa ini mendobrak batasan tiap tembok-tembok yg aku bangun sendiri. Batasan tembok yang aku gunakan sebagai pembenaran tuk melindungi diriku sendiri.

Wajah itu tetap saja menggangguku, bayang-bayang itu selalu saja hadir di waktu yang tak tepat.

Aku kesal, sungguh aku kesal. Sudah kuberlari jauh-jauh. Terbang setinggi-tingginya meninggalkan puing-puing di altar persembahan itu.

Meninggalkan remah-remah roti tuk dimakan kawanan burung merpati. Toh, ujungnya aku kembali ke tempat ini lagi, ke altar persembahan dari segala rasaku.

Ah kau puan, menarilah sesukamu. Tertawalah sekencang-kencangmu. Berbahagialah, karena bayang-bayangmu tetap saja menggangguku.

Seperti kutukan kau mengikutiku.

 

Purwokerto, 15 Juni 2016

Joni

 

Si Joni berjalan tegap menembus malam.

Dia mengabdikan diri sebagai anak sang malam.

Dengan modal beberapa batang rokok murahan dan dua buah buku di tasnya dia jalan melenggang.

Matanya tajam bagai elang.

Jejak tiap langkahnya tegas, seperti terpatri ke dalam bumi.

Telinga dan hidungnya siaga, siap menerjang bahaya yang akan melahapnya.

Kepalanya dipenuhi barisan rak-rak buku dan diskusi-diskusi liar.

Tanganya menggenggam pisau bermata dua.

Sangat tajam, tapi bisa membunuhnya saat dia lupa.

Joni melangkah, menjauh dari pelataran rumah.

Seakan berkata; “Hai lihatlah aku, aku ini anak sang malam. Siap menghabisimu kapan saja wahai barisan omnivora.”

Purwokerto, 13 Juni 2016

Taman Memorabilia

Terlalu dini untuk mengatakan selamat pagi.

Bulir-bulir embun saja belum selesai mengibaskan ekornya.

Namun sudah ku siram benih-benih di tamanku sejak lima menit tadi.

Ah, aroma ini. Seperti seduhan teh didalam poci.

Selalu memberikan goresan yang kekal.

Ya, memorabilia. Itu namanya..

Seperti jaring laba-laba, saling terhubung.

Sepertinya arus ini tak dapat menemukan dimana hulu nya.

Sejujurnya aku kesal ketika waktu berjalan amat pelan saat ini.

Ah sudahlah, biarkan ku menikmatinya. Aku tak mau terburu-buru.

Aku menikmati mu dari bangku di sudut taman memorabiliaku.

Purwokerto, 11 Juni 2016

Sajak dari Kubur

Jika mati adalah hidup..

Kenapa manusia takut untuk mati?

Padahal kemaren dulu mereka berjuang mati-matian untuk hidup.

Jika hidup adalah mati..

Kenapa manusia mati-matian bertahan hidup?

Padahal sesungguhnya mati adalah kehidupan yang sebenarnya.

Jika kau takut mati dan takut pula untuk benar-benar hidup.

Mungkin kau lupa, ada Dia yang berhak atas mu, atas ku, mereka bahkan kalian semua.

Purwokerto, 9 Juni 2016

Andai Sang Malam Mampu tuk Bercinta

Andai sang malam mampu tuk bercinta, mungkin sudah dia lacurkan tubuhnya.

Kau tak terima?

Kau berteriak mengapa?

Kau anggap tuhan tak adil?

Karena sang malam memang tak pernah mendapat keadilan, dia harus hilang digantikan sang fajar yg di nanti para pemburu rupiah dan si senja yg di agungkan oleh tiap-tiap karang di pesisir.

Dan dalam waktu nya yg tak seberapa, ia harus rela agar setiap kepala dari anak sang malam bisa menikmati kebebasanya.

Purwokerto, 6 Juni 2016

Mengapa Kau Malu untuk Menangis?

Kepulan asap meluncur deras dari mulutku, bersama dengan dengusan panjang nafasku mencoba tuk tumpahkan semua lelah. Bulir keringat tumpah di sudut pelipis kiriku, pikiranku berputar putar. Untuk apa aku hidup sebenarnya? Apakah hanya untuk mengejar merk merk mahal yang tiap hari menjejali kotak sihir itu? Atau untuk mengejar bibir bibir yang biasa menghiasi gerobak tukang sayur di pagi hari?

Ah.. untuk apa aku ini? Apakah seluruh umurku hanya untuk dikejar semua tagihan? Mulai dari tagihan listrik, makan hingga untuk buang tahi saja aku selalu dapat tagihan. Atau hanya untuk berlomba-lomba mengejar dunia? Tapi dunia apa yang sedang ku kejar sekarang? Dunia fantasi, dunia maya, dua dunia, atau dunia macam apa? Semuanya berlalu lalang di pikiranku, saling bertubrukan, saling injak-menginjak, jilat-menjilat, terkam-menerkam. Kau tahu? Ujung dari semua itu hanyalah omong kosong. Tak berbekas di akhiran, apa yang dinikmati? Apakah aku akan bahagia dengan semua ini? Bahagia seperti apa? Bahagia seperti akhir kisah Romeo dan Juliet? Atau seperti akhiran film pendek berlayar biru yang biasa ku putar di mesin waktu dikamar ku?

Semua berputar, membelitku tanpa ujung. Aku tak sadar jika mataku sudah berkerja terlalu keras, mataku berkeringat. Aku tertunduk, sesaat aku sadar. Ku usap pipi kiriku takut kalau nanti si Mbok melihatku. Dan dalam sadarku aku kembali tersadar, aku mendengar suara merdu. Ya! Suara itu tepat berasal dari surau di seberang rumahku. Seperti sihir, sayup sayup aku mendengar bisikan. ”Kalau tangis menurutmu adalah aib, mengapa kau dilahirkan dalam keadaan menangis? Bukankah kelahiranmu itu kebahagiaan untuk ayah, ibumu? Untuk orang orang disekitarmu? Mengapa kau malu hanya untuk sekedar menangis?” bisiknya.

Seperti suara petir memecah kekhusyuan rintik hujan, suara tadi merontokan semua yang ada di pikiranku. Cepat-cepat aku mengusap mukaku dan masuk kedalam rumah. Aku bersuci dari ujung pipa paralon di belakang rumah yg usang termakan zaman. Sebelum masuk ke kamar, aku mantapkan niatku, pasrah dan sadar siapa sejatinya diriku ini. Dan aku tumpahkan semuanya, aku berbincang dengannya. Ini bukan lagi tangis, aku tak tahu apa namanya. Hanya Dia yang tahu, hanya Dia yang tahu. Ya memang hanya dia yang tahu..

Purwokerto, 27 Mei 2016

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai