Kepulan asap meluncur deras dari mulutku, bersama dengan dengusan panjang nafasku mencoba tuk tumpahkan semua lelah. Bulir keringat tumpah di sudut pelipis kiriku, pikiranku berputar putar. Untuk apa aku hidup sebenarnya? Apakah hanya untuk mengejar merk merk mahal yang tiap hari menjejali kotak sihir itu? Atau untuk mengejar bibir bibir yang biasa menghiasi gerobak tukang sayur di pagi hari?
Ah.. untuk apa aku ini? Apakah seluruh umurku hanya untuk dikejar semua tagihan? Mulai dari tagihan listrik, makan hingga untuk buang tahi saja aku selalu dapat tagihan. Atau hanya untuk berlomba-lomba mengejar dunia? Tapi dunia apa yang sedang ku kejar sekarang? Dunia fantasi, dunia maya, dua dunia, atau dunia macam apa? Semuanya berlalu lalang di pikiranku, saling bertubrukan, saling injak-menginjak, jilat-menjilat, terkam-menerkam. Kau tahu? Ujung dari semua itu hanyalah omong kosong. Tak berbekas di akhiran, apa yang dinikmati? Apakah aku akan bahagia dengan semua ini? Bahagia seperti apa? Bahagia seperti akhir kisah Romeo dan Juliet? Atau seperti akhiran film pendek berlayar biru yang biasa ku putar di mesin waktu dikamar ku?
Semua berputar, membelitku tanpa ujung. Aku tak sadar jika mataku sudah berkerja terlalu keras, mataku berkeringat. Aku tertunduk, sesaat aku sadar. Ku usap pipi kiriku takut kalau nanti si Mbok melihatku. Dan dalam sadarku aku kembali tersadar, aku mendengar suara merdu. Ya! Suara itu tepat berasal dari surau di seberang rumahku. Seperti sihir, sayup sayup aku mendengar bisikan. ”Kalau tangis menurutmu adalah aib, mengapa kau dilahirkan dalam keadaan menangis? Bukankah kelahiranmu itu kebahagiaan untuk ayah, ibumu? Untuk orang orang disekitarmu? Mengapa kau malu hanya untuk sekedar menangis?” bisiknya.
Seperti suara petir memecah kekhusyuan rintik hujan, suara tadi merontokan semua yang ada di pikiranku. Cepat-cepat aku mengusap mukaku dan masuk kedalam rumah. Aku bersuci dari ujung pipa paralon di belakang rumah yg usang termakan zaman. Sebelum masuk ke kamar, aku mantapkan niatku, pasrah dan sadar siapa sejatinya diriku ini. Dan aku tumpahkan semuanya, aku berbincang dengannya. Ini bukan lagi tangis, aku tak tahu apa namanya. Hanya Dia yang tahu, hanya Dia yang tahu. Ya memang hanya dia yang tahu..
Purwokerto, 27 Mei 2016