Warung Bahagia

Petang ini, ah aku tersadar lagi. sedikit pening di kepala masih tersisa. Bayangan-bayangan hitam, abu abu, merah, hijau, putih bahkan jingga. Aku terbangun, masih tersisa sedikit goresan-goresan tak berdarah. Penat, ingin rasanya tuk muntah. Setiap hari dijejali rutinitas monoton, satu-satu , dua-dua, tiga-tiga, tiga-satu. Aku sebagai makhluk modern yang dihisap oleh waktu, dibuat untuk menjadi pecandu omong kosong yang dijajakan oleh si layar segi empat 14 inci di sudut kamarku. Ah,sampai kapan ini berakhir tuhan?

Aku tersadar lagi, kali ini bayang bayang merah muda, manis, cantik. Entah ada angin apa, tiba-tiba bayangan itu menjadi gelap, retak, melahapku. Wajah itu, ya wajah itu yang melahapku. Wajah-wajah palsu yg menghisap pelan, membius manis lalu hilang tanpa tanggung jawab, seperti pedagang obat di emperan pasar. Luka ini terbuka lagi, makin banyak goresan. Tapi aku heran, “kenapa tak ada darah di lukaku?” batinku.

Aku termenung, ku hisap lagi rokok kretek murahan dan segelas kopi hitam pekat. Bukan, ini bukan hitam. Hitam hanyalah sebutan, aku tak mau menyebutnya hitam. Entah apa, ku biarkan saja tak bernama.Lalu dihisapan terakhir kretek ku sesuatu menyambarku, aku tersadar. Hey kau dengar suara itu? Kau dengar tidak? Suara sayup sayup merdu itu membuatku terjaga. Ah rupanya warung bahagia sudah memanggil, seperti sayup-sayup suara dari surau di waktu shubuh. Warung bahagia, itulah namanya. Menawarkan kebebasan, kemerdekaan tanpa perjanjian yang tak dirasakan oleh orang orang sepertiku. Aku berpakaian, dengan langkah teratur dan sedikit senyum simpul membawaku kearah kebebasan tanpa perjanjian .

Purwokerto, 26 Mei 2016

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai