Oleh: Tutus Pambudi, Gending Serani, Rodiyyatun Rukmini
Gradasi warna merah berjejer di depan mataku, menggodaku satu per satu dalam rupa gincu, memintaku untuk memilih satu warna merah terbaik untuk bibirku.
“Hari ini aku ingin pakai maroon. Maaf ya..” Ucapku pada berderet gincu yang kusingkirkan perlahan dari meja riasku.
Cermin di dinding menyambut tarian wajahku dengan senyum. Kurasa sudah sempurna. Satu per satu detail riasan wajah di cermin di hadapanku kuperhatikan. Bulu mata outstanding, shading pipi merona, hidung mancung, dan gincu maroon yang baru saja kutempelkan. Malam ini aku ingin jadi sempurna.
Kuperhatikan lekuk dada pada cermin, menyembulkan bentuk yang selalu diinginkan lelaki. Kadangkala mereka pun menjelajah sampai lupa diri, menggerayang sedikit demi sedikit lika-liku dada sampai leher. Ah, sebegitu mudahnya. Kuperhatikan bentuk tangan dan lenganku, sempurna seperti sungguhan dicipta untuk begini bentuknya. Kuperhatikan jenjang kakiku, tak ada satu helai bulu pun yang menyembul bagai pualam mannequin yang sempurna terbentuk dari lelehan lilin putih memantul dari cahaya lampu.
Merambah bajuku yang sungguh mempesona dimataku, leher terbuka hingga celah celengan. Tertarik pada bahu yang lebih tertutup, demi menyembunyikan kekar sudut tubuh ini. Juga rok mini dengan rumbai halus diujungnya yang menggelitik paha indahku. Ah, benar mempesona malam ini!
Langkahku renyah menyecap setapak, menyusur jalan dengan lebar seadanya, menuju tempat yang remangnya seadanya pula. Tapi remang itu yang selalu bisa memanggil aku dan teman-temanku untuk datang, selalu ramai, seperti laron-laron yang mengerumuni cahaya setiap kali lepas hujan. Cetak-cetok sepatu hak tinggiku seirama dengan lagu yang semakin jelas kudengar seiring berkurangnya jarakku dengan tempat yang kutuju.
“Jam segini baru dateng, Nit?” tanya Tarjo, penjaga parkir yang sering menggodaku.
“Iya, keramasan dulu tadi, pulang melaut sedikit terlambat.” Kujawab sambil membenarkan posisi rokku yang naik sedikit.
“Kalungmu baru?” lirikan mata Tarjo mengarah ke gantungan kalung bertuliskan Anita di leherku. Kurasa setiap orang akan berkomentar serupa sebab kuposisikan bersanding dengan dadaku.
Aku hanya berlalu dengan senyum menggoda.
Langkahku berlanjut ke ruangan dengan berbagai rak lipstik dan kawan-kawannya serta gantungan memanjang dengan berbagai pilihan warna yang menantang mata. Belum lagi model-modelnya, sungguh bagaikan tak ada lagi kekurangan kain. Ah memikirkan apa aku ini, pelanggan banyak menanti.
Lima menit kemudian namaku dipanggil juga, aku melangkah dengan perasaan yang sedikit aneh. Panggilanku langsung menunjuk untuk langsung menuju bilik paling ujung. Bilik termewah ditempat ini, kurang lebih delapan kali tujuh meter dengan jendela menembus pandang ke luar dengan Kasur tebal dan wangi. Aku membuka pintu kayunya dan terkaget seketika yang kulihat hanyalah tas seorang perempuan diatas kasur. Dan berpikir kenapa tas perempuan, apa dia memesan gigolo?
“Halo…” suara lembut tiba-tiba terdengar dari belakangku. Wajah yang kukenal betul. Aku tertegun, diam sejenak. Kemudian memberanikan diri untuk bersuara meski sedikit tercekat.
“Hendak apa?”
“Sudah lama bukan?”
“Apanya?”
“Perjarakan kita.”
Sejujurnya aku enggan menjawab lagi. Aku mencoba meneguhkan diri dan tidak mudah gugur dengan apa yang kuyakini sekarang. Aku sudah ingin lari sejak tadi, hanya saja kakiku tertahan sebab kata Bosku aku harus melayani siapapun yang ada di dalam bilik ini, sebab ia sudah memesan dan membayar mahal untuk dipuaskan olehku. Aku bergidik dibuatnya! Mengumpat di dalam hati, jika aku tahu dia yang ada di dalam bilik ini, yang ada akulah yang dipuaskan. Dipuaskan oleh tayub-tayub masa lalu, ingatan yang benar-benar sedang ingin kuhilangkan. Bangsat!
Namun percuma saja, sebesar apapun keinginanku untuk berlari tenagaku terdera sentuhan lembut yang melewati pundak dan mengisyaratkan keinginan untuk menyentuhku sebagai seseorang yang sesungguhnya. Aku melangkah berbalik badan, kudapati ia semakin cantik. Badan berkecukupan, rambut ikal hitam panjang, alis tebal dengan ulasan gemulai, dan wajah yang selalu berseri.
“Apa yang kau inginkan?”
“Kamu.”
“Sudahlah, aku sudah temukan kehidupan ini tanpamu dan bahagia atas ini”
“Benar bahagia?”
Aku hanya menunduk, rasanya ingin menangis biar runtuhlah sudah seluruh kejantanan ini. Ia justru menyentuh daguku, dikecupnya bibirku yang masih maroonmerona dan ia tetap memandangku sebagai aku.
Sesegera mungkin aku menyadarkan diri, menarik bibirku dari cumbunya. Kemudian mundur beberapa langkah.
“Mengapa engkau begini!” bentakku.
Perempuan di hadapanku terkekeh. “Bukankah aku yang seharusnya bertanya demikian? Mengapa engkau begini? Lupakah engkau kita pernah saling memuaskan dulu?”
Senyumnya menyungging dan kian memojokkanku. Aku tak bisa begini terus. Aku harus beranjak.
“Mas Anton!!!! Perasaanku padamu tak berubah sama sekali sampai detik ini!”
Teriakannya menghentikan langkahku yang sudah sampai di ambang pintu. Aku menunduk sejenak. Rambut panjang yang sejak sore kupasang dengan hati-hati di kepalaku perlahan kulepas. Penampakanku terlihat berubah di cermin lemari sudut kamar. Tapi aku tidak bisa membohongi hasutan hormone estrogen di dalam diriku untuk tetap mengeluarkan sisi feminim, aku menangis sesegukan.
Ia tetap memelukku erat dan nafasnya berada pada leherku, rasanya sungguh aneh berada pada himpitan perempuan yang masih menginginkanku meski tahu pekerjaanku. Kunikmati jamahannya pada tubuh yang kurasa kian kekar seperti kala mengarungi lautan demi ikan yang tak mampu memenuhi kebutuhanku. Jantanku tak kuasa menatap matanya, menyentuh lekuk lehernya, merengkuh punggungnya, membawanya kepada bahagia duniawi pada kasur yang sudah ia bayar mahal. Kunikmati ia sembari tubuh kekarku ia nikmati. Hembusan nafas dan keringat saling bersentuhan,
“Kau masih sama ya”
“Sama apanya?” tanyaku bingung sambil tetap mengguncangkan kasur tempat kami berbaring.
“Sama lihainya, kala kau masih jadi nelayan dulu”
“Aku masih nelayan” dan kami kembali berciuman.
Lidah kami saling memeluk erat. Sangat erat, melebur dalam gincu kami yang nampak kontras. Remang lampu kamar seperti mengetahui perasaan kami, ketenangan. Tanpa perlu raungan, hanya desahan pelan yang jatuh dari bibir kami lalu memenuhi isi ruangan. Dadaku yang bidang menyentuhnya lembut, hingga serasa ada yang lumer dari dalamnya. Aih, gesturnya masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Menjebol habis semua pertahananku, aku kepayahan. Memasuki liang didalamnya seakan aku menapaki kembali cerita yang hampir terbakar di antara rak bukuku.
Delapan tahun yang lalu…
Pertemuan kami terpaut kasta sosial yang amat jelas, antara ekonomi yang saling menjulang dan membentuk tembok raksasa diantara kami. Tepat kala kaki jenjang yang indah menapak pantai pasir putih tempat aku mencari makan, ia hanya bersama temannya. Memakai baju minim yang pasti mengundang hawa menguntungkan lelaki, ia melangkah dan membiarkan kakinya dibalut mesra oleh pasir basah. Aku hanya melihat tanpa pernah tau apa maksud semesta, lantas kutarik perahuku melihat laut sudah memberi kode. Aku menoleh sejenak, ia memperhatikan aku. Kikuk aku dibuatnya, namun teringat akan stok beras di rumah yang sudah minim dan harga ikan sedang membaik, kubiarkan saja aku pergi membawa angan yang rasa-rasanya tak mungkin.
Tiga hari berlalu. Aku kembali membawa tak banyak ikan. Aku terheran melihatnya duduk di pinggir pantai menatap lautan bahkan menatap perahuku pelan-pelan menepi. Wajahnya masih sama seperti kala aku meninggalkan jejak dipantai. Hendak ku sapa namun ragu selalu hinggap, mengingat merek bikini nya Calvin Klein dan aku seorang yang mencari makan pun untung-untungan.
Aku masih termangu di tepian, menatapnya dalam-dalam. Bukan, bukan menatapnya! Aku hanya menatap bayangannya. Karena ku rasa memanglah tak pantas nelayan sepertiku menaruh hati kepada wanita dengan merk yang berjejal ditubuhnya. Kali ini aku menatap bayanganku sendiri. Hitam, kekar, dengan rambut sebahu yang berantakan. Kuyup dicumbu ombak yang bergulung di lepas pantai tadi. Aku masih menatap bayangannku, tetiba aku dikagetkan dengan satu bayangan lagi yang muncul.
“Jam segini sudah pulang melaut, Mas?” sapanya dengan nada yang jelas-jelas menunjukkan dia bukan orang yang berasal dari asalku.
“Eh. Mmm. Iya, Mbak..” jawabku malu-malu sebab hanya berpakaian bawah dan tak berbaju.
“Kurasa ikan-ikannya sedang enggan keluar, sebab cuacanya panas begini.” Pernyataannya seolah menjelaskan hasil tangkapan ikanku hari ini. Tak seberapa dan bisa dihitung mata.
“Iya, Mbak. Mungkin saja begitu. Atau barangkali ikan-ikan dan keluarganya sedang sibuk menyiapkan makan besar untuk hari raya pekan depan.” Candaku yang seketika membuat rekah di bibir yang gincunya sudah mulai pudar.
“Hahaha. Mas bisa saja. Oh iya, kalau ingin menyebrang pulau, apa di sini menyediakan sewa kapal atau semacamnya?”
“Tentu ada, tapi biasanya mereka menyewakannya lepas pulang melaut, ya jam-jam segini.”
“Kalau Mas, menyewakan kapal juga?”
Aku diam sejenak mendengar pertanyaannya kali ini. Sejujurnya aku belum pernah menarik penumpang lepas melaut, sebab tulang-tulang serasa ingin segera merebah, apalagi ketika tangkapan sedang sepi. Emosi jadi kurang baik. Tapi kali ini, jika aku menjawab tidak, itu berarti aku kehilangan kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan wanita di depanku ini. Normallah aku jika tertarik dengannya bukan? Hanya banci yang akan mengingkari kecantikan yang dititipkan Tuhan di wajah yang satu ini.
“Iya, saya menyewakan kapal. Mbak berniat menyeberang pulau?”
“Iya, tapi niatnya besok pagi-pagi sekali. Kira-kira bisa tidak?” tanyanya terburu-buru. Aku kembali diam.
“Oh kalau soal biaya, tidak masalah jika lebih mahal.”
“Tidak, bukan masalah itu, hanya saja pagi-pagi sekali saya harus ke bagian lain selain pulau itu, untuk sekedar melempar satu dua kali jaring. Tidak bisakah kita pergi setelahnya?”
Kali ini perempuan itu yang diam.
“Baiklah, besok kita bertemu di sini ya.”
Kira-kira begitu prolog dari cerita aku dengan perempuan itu. Prolog yang tak butuh banyak waktu untuk berubah menjadi inti cerita, dengan aku dan perempuan itu sebagai tokoh utamanya. Di pulau itu pula kami mengawali cumbuan kami. Pergumulan. Penyatuan. Yang dengan singkat pula diubah waktu menjadi sebuah pesakitan.
***
Aku masih mengendus juntaian rambut di lehernya, menciptakan geliat tubuh yang menggoyangkan ranjang kami. Ingatan-ingatan masa lalu masih menghantam, tapi yang terjadi kini adalah yang terbahagia sepanjang waktuku bersamanya. Kami terhenti pada alunan riuh-rendah untuk saling mendengarkan nafas masing-masing. Lumer menuju ketiadaan. Sesaat kami kembali mengatur nafas, dan kecupan lembutnya mendarat di bibirku.
“Sulit sekali menemukanmu” ucapnya lirih.
“Sebenarnya kau bisa menemukanku di pantai saat senja hampir retak.” Balasku.
“Ah, kau ini selalu berbicara soal senja.” Dia mulai gelisah.
“Hahaha, senja selalu dapat berbicara tentangmu, soal kita.
“Aku selalu tenggelam ketika orang tuamu menjemputmu pulang, begitu pula dengan senja.” Terangku.
“Sudahlah, tak usah bahas lagi yang lalu-lalu.
“Intinya sekarang aku sudah bersamamu lagi, dan aku pun menepati janjiku padamu.
“Menemanimu…” katanya terpotong.
“Sudah, sudah.. Aku bukanlah Anton yang dulu.
“Lihat badanku, kulitku, telingaku, gincuku yang setebal ini.
“Butakah matamu dengan semua keanehan ini?” terangku.
“Aku tak peduli mas! Aku hanya ingin kau, sudah.” Jawabnya coba meyakinkanku.
“Cukup, aku tak bisa meyakinkan diriku sendiri tentang adanya kau.
“Bahkan tentang perubahanku kini aku pun masih tak yakin.
“Jam servisku sudah habis, aku harus bersiap-siap.
“Masih banyak tamu menunggku, maaf.” Elakku.
Sembari membereskan tubuhku yang telanjang bulat, tapi tangannya menahanku.
“Aku membayarmu untuk hari ini”
“Kau membayar Bosku” ucapku
“Asal kita bahagia”
Aku linglung sejenak, segalanya terlalu klise.
“Apa yang kau cari? Tidak cukup ikan selautan memberimu makan?
“Tidak cukup kau makan seadanya dan tinggal dirumah dengan ambin yang cukup untuk kita?
“Apa yang kau cari?” celotehnya panjang lebar
Aku hanya mendiamkan berbagai pertanyaan yang menuntut. Kukenakan satu per satu pakaian yang berserakan di ranjang hingga lantai. Juga rambut palsu yang kulepas di ambang pintu. Aku kembali menjadi aku. Kuperbaiki posisi rok yang masih terlalu naik. Di depan cermin aku melihat transformasiku. Begitupun perempuan itu. Ia diam dan memandangi bayanganku lekat-lekat. Aku kembali fokus pada rupa diriku. Ada satu yang kulihat kurang.
“Boleh kuminta gincumu sedikit?”
Tangan perempuan itu meraih tasnya dan meraba bagian dalamnya, dikeluarkannya satu gincu bernada ungu. Diberikannya kepadaku, aku meraihnya tanpa membalikkan badan. Aku kembali menjadi aku. Paripurna.
“Kenakan pakaianmu! Aku harus kembali bekerja.” Ucapku seraya meninggalkan bilik sekaligus perempuan yang masih telanjang bulat di ambang pintu.
SELESAI
2016