Tahun….. Baru

-tutusXyosea
Hingar bingar kota tergulung rapi di sudut tempat tidur, di bawah bantal dan sprei kusut.

Saat-saat paling dasyat adalah saat-saat dimana aku terbaring tersayat. Antara yang berjalan dan tertidur -dunia seperti mengecil jadi sebuah aku- 

Waktu lengket di ketiak, akhir tahun di kemas dengan euforia ritual memanggil hujan. Jalanan yang cerewet, lampu-lampu taman berkeringat, dan mataku hendak berbicara tapi suaraku menguap sebelum naik ke kerongkongan.
Aku sedang berada di persimpangan jalan. Bingung. Antara tradisi lama atau moderintas. Dionysus keparat! Datanglah, sebuah dunia warna-warni. Luka di pipiku adalah negara yang angkuh. Aku kehabisan cinta untuk biografiku 5 menit. Cinta, adalah seluruh kebosananku pada dunia.
Daguku sampai gemetar, gigiku ingin lari pagi memutari bundaran tempat dulu kita pertama bertemu. Cinta yang lumer di sela-sela gigi, botol-botol berunjuk rasa minta potongan setengah harga. Tak ada lagi ruang tuk hanya sekedar mengecup bibirmu, cinta. Bajingan!

Buat apa gegas, jika hutan di atas kepalaku mengigil. Aku pikir hidup adalah narasi-narasi yang panjang, suara-suara yang riuh, dan bahasa yang bising. Tak ada waktu, untuk meletakkan biografi pada selimut yang hangat.

Bagaimana kalau saat ini ku seduh beberapa gelas kopi kemudian mengafdruk potret kita, menggantungnya di sebelah berhala tak bernama. Langit-langit kamar sengaja ku cetak miring, tak bernama juga. Ibuku, terkadang juga menganggapku tak bernama. Hanya sebatas “nang”, bukan nama depan, tengah, atau belakang, bahkan nama aliasku pun. Jadi untuk apa aku beri nama gelas kopiku, wajahmu, dan waktu-waktu yang berlarian di depan hidungku. Toh aku rasa kau pun faham jika narasi ini sudah bernama sebelum waktu mengecil jadi sebuah aku.

Aku telah sampai pada sebuah batas. Batas yang membatasi hidupku. Hidup adalah perayaan kekosongan. Tidurlah, negara telah membuat lebam di wajahku.

“Tak ada nyanyian, tak ada tarian. Dan batas-batas makin terasa pekat saat orang berlalu lalang dalam kacamata seorang kekasih” kata temanku tempo hari.
Line, 1 Januari 2017

Meja Makan

Bu,

Hari nampak makin tua

Hujan pun tak henti lajunya menabrak nalarku

Bergelas-gelas kopi sudah tandas di meja makan

Bau kemenyan yang kau persoalkan di sela kretekku pun lenyap sudah

Bersama deretan nisan dan bendera lambang negara yang aku pun lupa namanya

Bu,

Aku lelah berkompromi

Dan kau lihat seragamku?

Sudah lusuh

Tak perlu repot-repot belikan seragam baru lagi bu

Cukup!

Sudah terlalu banyak uang yang dihamburkan tuk membeli seragam

Sumpah, aku tak perlu seragam bu

Aku hanya rindu ritual kita

Di sebuah meja makan

Yang dimulai saat denting sendok diangkat dari kawananya

Lalu tempat bersenandung yang kau bangun diantara sebakul nasi, oseng tempe, tumis kangkung dan telur asin

Tempat bernaung yang memberi lebih dari seragam, deretan nisan, pemikiran

Lebih dari sekedar hiburan

Tak ada kompromi disitu

Di sebuah meja makan

Tanpa seragam
Rumah, 25 November 2016

Cari Saja Judulmu Sendiri


Rambutku yang berlarian dan belajar terbang

Kecuplah, kecup tiap kata yang tersentuh

Kelak kau akan kembali tumbuh

Menjadi bahasa di tiap akar yang tertancap di dalam tempurung ini

Mesralah

Bawa baju, celana dalam, handuk serta kaos kakimu

Tanggalkan, kepakkan, jauh lah jauh

Rambutku,

ini bukan awal atau sebuah akhiran dalam paragraf yang kau sentuh

Tanda baca berserakan di tiap sela gigi di mulutmu

Rambutku,

kau boleh ikut kuliah, belajar mengaji atau les piano

Cari saja gurumu di dalam gua

Gelap adalah satu-satunya pendar di langit-langit

Genggam terus penamu

Tapi ingat!

Jangan sekali-kali kau beli penghapus

Bakar peta dan ingat rumahmu

Alamilah
20 September 2016

Sekat Rasa Di Sepotong Pagi

Aku menanammu selepas embun berguguran di kebun belakang

Dengan secangkir kopi pahit tanpa gula dan sepotong pagi

Kemudian ku tenun bangku bambu dihadapan semesta warna-warni ikan koi, cukup untuk berdua

Yang satu rindu dan satunya bayang

Menghiasmu dengan puisi-puisi yang kerap kita lagukan sebelum lelap

Mentari tak cukup tergesa menjemput kita pagi ini

Kita masih mengais rindu yang berceceran di pelataran

Ah, apa pula itu rindu?

Kala setiap kau sekedar cahaya dihadapanku pun terasa merdu membelai wajahku

Apa pula itu kita?

Ketika ceceran ini bukan hanya milik kita

Jika,

adalah perandaian yang kita ramu

Pada kebun belakang yang masih tetap bisu

Sial, kau merebut sunyiku

Disela ranjang atau langit-langit kamar

Jika,

adalah pemberhentian kita pada rasa yang kelak membanjir

Dihadapan semesta yang kian terik dan nyiur

Percuma pula aku menyepi, kalau wajahmu terus menghinggap pada kesadaran untuk tetap hidup

Diantara gesitnya kipas angin dan poster lusuh pada tembok.

Serupa titik yang membentuk garis pada kertasku

Ialah kau dengan hitam dan putih

Pena lalu sketsa-sketsa

Tetap indah

Karena aku hanya mengenal hitam dan putih

Tak apalah kau sebutku rabun

Kupandang dari jauh hasil tangan dan nurani rabunku

Kau lebih dari sekedar sketsaku, semestaku yang senantiasa menggerayang tanganku untuk berpena kembali

Mungkin kau berwarna-warni, hanya aku yang sudah cukup dengan hitam-putihmu

Menghidupkan

Atau kita yang coba mengenal lewat kata?

Dan bahasa yang diam-diam membuat renyah tawa kita semalam?

Dan cumbu mesra punggung tangan kita satu sama lain?

Karena pengenalan kita tak cukup hanya dengan kata dan nota

Kita tahu, rasa hanya urusan yang bukan kita

Dan tawamu melompat dari tiap sudut ruangan

Dan dalam diam kita sadar

Ada rasa yang kian melonjak

Selamat pagi sang penerka
Purwokerto, 19 September 2016

Bersama Gending Serani yang bangun terlalu pagi dan aku sudah siap mencumbu secangkir kopi pahit

Masihkah Engkau?

Lama tak bersua kawan. Apa kabarmu? Masihkah renyah tawamu? Apa teman terbaikmu masih senja? Mata tajam dan pertanyaan-pertanyaan yang liar, masih kah kau merawat itu? Dulu, dulu sekali ketika kita sama-sama tumbuh di dalam langit-langit kamar, atau dapur dan kebun belakang. Saat gigi kita ompong di sana-sini, kita membuat klub penggemar coklat dan gula-gula. Ingatkah kau saat kita pura-pura gagah sewaktu melawan petir saat hujan di kepala makin hari kian deras, kita menggigil lalu mengigau tentang rumah.

“Rumah, ayo kita cari rumah di luar.

“Masih banyak rumah di dalam gang-gang mata mereka.” katamu

“Benarkah? Bawa aku pulang! Ayo, cepatlah!” kataku tak sabar.

Jadilah kami anak sang malam, meniti jemari saat purnama. Memilin waktu menjadi sebuah tali panjang yang selalu mengingatkan kami tentang rumah. Kami berlari, merangkak, ngesot, terjatuh, berdarah-darah, tersapu angin malam atau terik saat matahari sedang sombong-sombongnya di atas kepala. Kami berburu, mencari apa yang mereka sebut rumah. Kaki kami tetap melangkah, dan aku saja tak sadar kapan kami ini berpisah. Semua berlalu begitu saja.

Pagi mulai menjemput dengan tergesa. Aku, masih berdiri mematung di depan lanskap dengan sosok menyerupai diriku di dalamnya.

“Kawan, masihkah engkau?”

2016

Boleh Kuminta Gincumu Sedikit?

Oleh: Tutus Pambudi, Gending Serani, Rodiyyatun Rukmini

Gradasi warna merah berjejer di depan mataku, menggodaku satu per satu dalam rupa gincu, memintaku untuk memilih satu warna merah terbaik untuk bibirku.

“Hari ini aku ingin pakai maroon. Maaf ya..” Ucapku pada berderet gincu yang kusingkirkan perlahan dari meja riasku.

Cermin di dinding menyambut tarian wajahku dengan senyum. Kurasa sudah sempurna. Satu per satu detail riasan wajah di cermin di hadapanku kuperhatikan. Bulu mata outstandingshading pipi merona, hidung mancung, dan gincu maroon yang baru saja kutempelkan. Malam ini aku ingin jadi sempurna.

Kuperhatikan lekuk dada pada cermin, menyembulkan bentuk yang selalu diinginkan lelaki. Kadangkala mereka pun menjelajah sampai lupa diri, menggerayang sedikit demi sedikit lika-liku dada sampai leher. Ah, sebegitu mudahnya. Kuperhatikan bentuk tangan dan lenganku, sempurna seperti sungguhan dicipta untuk begini bentuknya. Kuperhatikan jenjang kakiku, tak ada satu helai bulu pun yang menyembul bagai pualam mannequin yang sempurna terbentuk dari lelehan lilin putih memantul dari cahaya lampu.

Merambah bajuku yang sungguh mempesona dimataku, leher terbuka hingga celah celengan. Tertarik pada bahu yang lebih tertutup, demi menyembunyikan kekar sudut tubuh ini. Juga rok mini dengan rumbai halus diujungnya yang menggelitik paha indahku. Ah, benar mempesona malam ini!

Langkahku renyah menyecap setapak, menyusur jalan dengan lebar seadanya, menuju tempat yang remangnya seadanya pula. Tapi remang itu yang selalu bisa memanggil aku dan teman-temanku untuk datang, selalu ramai, seperti laron-laron yang mengerumuni cahaya setiap kali lepas hujan. Cetak-cetok sepatu hak tinggiku seirama dengan lagu yang semakin jelas kudengar seiring berkurangnya jarakku dengan tempat yang kutuju.

“Jam segini baru dateng, Nit?” tanya Tarjo, penjaga parkir yang sering menggodaku.

“Iya, keramasan dulu tadi, pulang melaut sedikit terlambat.” Kujawab sambil membenarkan posisi rokku yang naik sedikit.

“Kalungmu baru?” lirikan mata Tarjo mengarah ke gantungan kalung bertuliskan Anita di leherku. Kurasa setiap orang akan berkomentar serupa sebab kuposisikan bersanding dengan dadaku.

Aku hanya berlalu dengan senyum menggoda.

Langkahku berlanjut ke ruangan dengan berbagai rak lipstik dan kawan-kawannya serta gantungan memanjang dengan berbagai pilihan warna yang menantang mata. Belum lagi model-modelnya, sungguh bagaikan tak ada lagi kekurangan kain. Ah memikirkan apa aku ini, pelanggan banyak menanti.

Lima menit kemudian namaku dipanggil juga, aku melangkah dengan perasaan yang sedikit aneh. Panggilanku langsung menunjuk untuk langsung menuju bilik paling ujung. Bilik termewah ditempat ini, kurang lebih delapan kali tujuh meter dengan jendela menembus pandang ke luar dengan Kasur tebal dan wangi. Aku membuka pintu kayunya dan terkaget seketika yang kulihat hanyalah tas seorang perempuan diatas kasur. Dan berpikir kenapa tas perempuan, apa dia memesan gigolo?

“Halo…” suara lembut tiba-tiba terdengar dari belakangku. Wajah yang kukenal betul. Aku tertegun, diam sejenak. Kemudian memberanikan diri untuk bersuara meski sedikit tercekat.

“Hendak apa?”

“Sudah lama bukan?”

“Apanya?”

“Perjarakan kita.”

Sejujurnya aku enggan menjawab lagi. Aku mencoba meneguhkan diri dan tidak mudah gugur dengan apa yang kuyakini sekarang. Aku sudah ingin lari sejak tadi, hanya saja kakiku tertahan sebab kata Bosku aku harus melayani siapapun yang ada di dalam bilik ini, sebab ia sudah memesan dan membayar mahal untuk dipuaskan olehku. Aku bergidik dibuatnya! Mengumpat di dalam hati, jika aku tahu dia yang ada di dalam bilik ini, yang ada akulah yang dipuaskan. Dipuaskan oleh tayub-tayub masa lalu, ingatan yang benar-benar sedang ingin kuhilangkan. Bangsat!

Namun percuma saja, sebesar apapun keinginanku untuk berlari tenagaku terdera sentuhan lembut yang melewati pundak dan mengisyaratkan keinginan untuk menyentuhku sebagai seseorang yang sesungguhnya. Aku melangkah berbalik badan, kudapati ia semakin cantik. Badan berkecukupan, rambut ikal hitam panjang, alis tebal dengan ulasan gemulai, dan wajah yang selalu berseri.

“Apa yang kau inginkan?”

“Kamu.”

“Sudahlah, aku sudah temukan kehidupan ini tanpamu dan bahagia atas ini”

“Benar bahagia?”

Aku hanya menunduk, rasanya ingin menangis biar runtuhlah sudah seluruh kejantanan ini. Ia justru menyentuh daguku, dikecupnya bibirku yang masih maroonmerona dan ia tetap memandangku sebagai aku.

Sesegera mungkin aku menyadarkan diri, menarik bibirku dari cumbunya. Kemudian mundur beberapa langkah.

“Mengapa engkau begini!” bentakku.

Perempuan di hadapanku terkekeh. “Bukankah aku yang seharusnya bertanya demikian? Mengapa engkau begini? Lupakah engkau kita pernah saling memuaskan dulu?”

Senyumnya menyungging dan kian memojokkanku. Aku tak bisa begini terus. Aku harus beranjak.

“Mas Anton!!!! Perasaanku padamu tak berubah sama sekali sampai detik ini!”

Teriakannya menghentikan langkahku yang sudah sampai di ambang pintu. Aku menunduk sejenak. Rambut panjang yang sejak sore kupasang dengan hati-hati di kepalaku perlahan kulepas. Penampakanku terlihat berubah di cermin lemari sudut kamar. Tapi aku tidak bisa membohongi hasutan hormone estrogen di dalam diriku untuk tetap mengeluarkan sisi feminim, aku menangis sesegukan.

Ia tetap memelukku erat dan nafasnya berada pada leherku, rasanya sungguh aneh berada pada himpitan perempuan yang masih menginginkanku meski tahu pekerjaanku. Kunikmati jamahannya pada tubuh yang kurasa kian kekar seperti kala mengarungi lautan demi ikan yang tak mampu memenuhi kebutuhanku. Jantanku tak kuasa menatap matanya, menyentuh lekuk lehernya, merengkuh punggungnya, membawanya kepada bahagia duniawi pada kasur yang sudah ia bayar mahal. Kunikmati ia sembari tubuh kekarku ia nikmati. Hembusan nafas dan keringat saling bersentuhan,

“Kau masih sama ya”

“Sama apanya?” tanyaku bingung sambil tetap mengguncangkan kasur tempat kami berbaring.

“Sama lihainya, kala kau masih jadi nelayan dulu”

“Aku masih nelayan” dan kami kembali berciuman.

Lidah kami saling memeluk erat. Sangat erat, melebur dalam gincu kami yang nampak kontras. Remang lampu kamar seperti mengetahui perasaan kami, ketenangan. Tanpa perlu raungan, hanya desahan pelan yang jatuh dari bibir kami lalu memenuhi isi ruangan. Dadaku yang bidang menyentuhnya lembut, hingga serasa ada yang lumer dari dalamnya. Aih, gesturnya masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Menjebol habis semua pertahananku, aku kepayahan. Memasuki liang didalamnya seakan aku menapaki kembali cerita yang hampir terbakar di antara rak bukuku.

Delapan tahun yang lalu…

Pertemuan kami terpaut kasta sosial yang amat jelas, antara ekonomi yang saling menjulang dan membentuk tembok raksasa diantara kami. Tepat kala kaki jenjang yang indah menapak pantai pasir putih tempat aku mencari makan, ia hanya bersama temannya. Memakai baju minim yang pasti mengundang hawa menguntungkan lelaki, ia melangkah dan membiarkan kakinya dibalut mesra oleh pasir basah. Aku hanya melihat tanpa pernah tau apa maksud semesta, lantas kutarik perahuku melihat laut sudah memberi kode. Aku menoleh sejenak, ia memperhatikan aku. Kikuk aku dibuatnya, namun teringat akan stok beras di rumah yang sudah minim dan harga ikan sedang membaik, kubiarkan saja aku pergi membawa angan yang rasa-rasanya tak mungkin.

Tiga hari berlalu. Aku kembali membawa tak banyak ikan. Aku terheran melihatnya duduk di pinggir pantai menatap lautan bahkan menatap perahuku pelan-pelan menepi. Wajahnya masih sama seperti kala aku meninggalkan jejak dipantai. Hendak ku sapa namun ragu selalu hinggap, mengingat merek bikini nya Calvin Klein dan aku seorang yang mencari makan pun untung-untungan.

Aku masih termangu di tepian, menatapnya dalam-dalam. Bukan, bukan menatapnya! Aku hanya menatap bayangannya. Karena ku rasa memanglah tak pantas nelayan sepertiku menaruh hati kepada wanita dengan merk yang berjejal ditubuhnya. Kali ini aku menatap bayanganku sendiri. Hitam, kekar, dengan rambut sebahu yang berantakan. Kuyup dicumbu ombak yang bergulung di lepas pantai tadi. Aku masih menatap bayangannku, tetiba aku dikagetkan dengan satu bayangan lagi yang muncul.

“Jam segini sudah pulang melaut, Mas?” sapanya dengan nada yang jelas-jelas menunjukkan dia bukan orang yang berasal dari asalku.

“Eh. Mmm. Iya, Mbak..” jawabku malu-malu sebab hanya berpakaian bawah dan tak berbaju.

“Kurasa ikan-ikannya sedang enggan keluar, sebab cuacanya panas begini.” Pernyataannya seolah menjelaskan hasil tangkapan ikanku hari ini. Tak seberapa dan bisa dihitung mata.

“Iya, Mbak. Mungkin saja begitu. Atau barangkali ikan-ikan dan keluarganya sedang sibuk menyiapkan makan besar untuk hari raya pekan depan.” Candaku yang seketika membuat rekah di bibir yang gincunya sudah mulai pudar.

“Hahaha. Mas bisa saja. Oh iya, kalau ingin menyebrang pulau, apa di sini menyediakan sewa kapal atau semacamnya?”

“Tentu ada, tapi biasanya mereka menyewakannya lepas pulang melaut, ya jam-jam segini.”

“Kalau Mas, menyewakan kapal juga?”

Aku diam sejenak mendengar pertanyaannya  kali ini. Sejujurnya aku belum pernah menarik penumpang lepas melaut, sebab tulang-tulang serasa ingin segera merebah, apalagi ketika tangkapan sedang sepi. Emosi jadi kurang baik. Tapi kali ini, jika aku menjawab tidak, itu berarti aku kehilangan kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan wanita di depanku ini. Normallah aku jika tertarik dengannya bukan? Hanya banci yang akan mengingkari kecantikan yang dititipkan Tuhan di wajah yang satu ini.

“Iya, saya menyewakan kapal. Mbak berniat menyeberang pulau?”

“Iya, tapi niatnya besok pagi-pagi sekali. Kira-kira bisa tidak?” tanyanya terburu-buru. Aku kembali diam.

“Oh kalau soal biaya, tidak masalah jika lebih mahal.”

“Tidak, bukan masalah itu, hanya saja pagi-pagi sekali saya harus ke bagian lain selain pulau itu, untuk sekedar melempar satu dua kali jaring. Tidak bisakah kita pergi setelahnya?”

Kali ini perempuan itu yang diam.

“Baiklah, besok kita bertemu di sini ya.”

Kira-kira begitu prolog dari cerita aku dengan perempuan itu. Prolog yang tak butuh banyak waktu untuk berubah menjadi inti cerita, dengan aku dan perempuan itu sebagai tokoh utamanya. Di pulau itu pula kami mengawali cumbuan kami. Pergumulan. Penyatuan. Yang dengan singkat pula diubah waktu menjadi sebuah pesakitan.

***

Aku masih mengendus juntaian rambut di lehernya, menciptakan geliat tubuh yang menggoyangkan ranjang kami. Ingatan-ingatan masa lalu masih menghantam, tapi yang terjadi kini adalah yang terbahagia sepanjang waktuku bersamanya. Kami terhenti pada alunan riuh-rendah untuk saling mendengarkan nafas masing-masing. Lumer menuju ketiadaan. Sesaat kami kembali mengatur nafas, dan kecupan lembutnya mendarat di bibirku.

“Sulit sekali menemukanmu” ucapnya lirih.

“Sebenarnya kau bisa menemukanku di pantai saat senja hampir retak.” Balasku.

“Ah, kau ini selalu berbicara soal senja.” Dia mulai gelisah.

“Hahaha, senja selalu dapat berbicara tentangmu, soal kita.

“Aku selalu tenggelam ketika orang tuamu menjemputmu pulang, begitu pula dengan senja.” Terangku.

“Sudahlah, tak usah bahas lagi yang lalu-lalu.

“Intinya sekarang aku sudah bersamamu lagi, dan aku pun menepati janjiku padamu.

“Menemanimu…” katanya terpotong.

“Sudah, sudah.. Aku bukanlah Anton yang dulu.

“Lihat badanku, kulitku, telingaku, gincuku yang setebal ini.

“Butakah matamu dengan semua keanehan ini?” terangku.

“Aku tak peduli mas! Aku hanya ingin kau, sudah.” Jawabnya coba meyakinkanku.

“Cukup, aku tak bisa meyakinkan diriku sendiri tentang adanya kau.

“Bahkan tentang perubahanku kini aku pun masih tak yakin.

“Jam servisku sudah habis, aku harus bersiap-siap.

“Masih banyak tamu menunggku, maaf.” Elakku.

Sembari membereskan tubuhku yang telanjang bulat, tapi tangannya menahanku.

“Aku membayarmu untuk hari ini”

“Kau membayar Bosku” ucapku

“Asal kita bahagia”

Aku linglung sejenak, segalanya terlalu klise.

“Apa yang kau cari? Tidak cukup ikan selautan memberimu makan?

“Tidak cukup kau makan seadanya dan tinggal dirumah dengan ambin yang cukup untuk kita?

“Apa yang kau cari?” celotehnya panjang lebar

Aku hanya mendiamkan berbagai pertanyaan yang menuntut. Kukenakan satu per satu pakaian yang berserakan di ranjang hingga lantai. Juga rambut palsu yang kulepas di ambang pintu. Aku kembali menjadi aku. Kuperbaiki posisi rok yang masih terlalu naik. Di depan cermin aku melihat transformasiku. Begitupun perempuan itu. Ia diam dan memandangi bayanganku lekat-lekat. Aku kembali fokus pada rupa diriku. Ada satu yang kulihat kurang.

“Boleh kuminta gincumu sedikit?”

Tangan perempuan itu meraih tasnya dan meraba bagian dalamnya, dikeluarkannya satu gincu bernada ungu. Diberikannya kepadaku, aku meraihnya tanpa membalikkan badan. Aku kembali menjadi aku. Paripurna.

“Kenakan pakaianmu! Aku harus kembali bekerja.” Ucapku seraya meninggalkan bilik sekaligus perempuan yang masih telanjang bulat di ambang pintu.

SELESAI


2016

Puting Istri Sapiku


teruntuk puting-puting yang meranum di dalam kandang




Dosen berceloteh

Mengenai peri-keternakan yang makin tak penting

Ah, kami memeras mesra putingnya

Menjual murah dan cara membuat kandang yang efisien
Jadilah aku, seorang anak sapi

Walau bukan puting sapi yang kucucuk, botol berputing!



Aku pun pecinta anak sapi, mereka anak-anak yang tak paham bisnis

Tapi jadi korban orang kapitalis
Kasian anak sapi tak bisa jadi anak manusia

Padahal anak manusia juga anak sapi, tapi anak sapi bukan anak manusia


Serakah!

Melebihi sapi yang butuh rumput, atau sekedar biji-bijian yang mumpuni nutrisinya



Lihat kami!

Manusia, butuh susu serta komoditas lantas dimonopoli

Dan sapi, butuh makan lalu bekerja rodi



Sapi rindu puting ibunya!

Ibunya digondol maling, calo juragan puting


Ini cuma masalah puting kan?

Atau masalah gembala yang jual diri?



Pelacur rindu di buai! (atau dibuahi?)

Duitnya buat beli pengganjal puting, supaya tarifnya naik dan mampu beli susu sapi

Gembala tak tau diri, sudah berputing tapi tak keluar susu

Sebab tak pernah beranak seperti sapi mesti dikawin oleh tangan manusia pun tetap bersusu

Pelacur? Hanya menjerit sembari meremas puting pelanggan
Aih, panjang umur sapi!

“Kalau anak sapi menetek ibunya, anakku menetek siapa?

“Puting istriku mahal, lagipula bau tembakau.” Si gembala beralasan
Yang jelas bukan bapaknya!

Meski semen bapaknya suka berceceran dan dibuang belaka

Semen sapi bisa dibekukan, hendak mengawini banyak sapi dara

Montok dan calon susunya bergentong-gentong

Sapi di monopoli peternak, peternak di monopoli pemodal.

Pemodal?

Diperah pelacur

Ah, katanya anti feodal tapi masih berkutat ala VOC

Perahlah, perah susuku hingga anak kau lupa ibunya

Jelaskan pada anak2mu nanti, ibunya itu sapi

Sapi tulen!

Bukan campur, apalagi telor mata sapi
Ini baru soal tetek dan isinya

Bukan harga kutangmu yang ditukar dengan berat susuku

“Ingat, jangan beri nama Anto atau Tini tuk anakmu

“Tambahkan Sapi di depannya

“Semisal, Sapi Kumala Dewi

“Atau Tino Sapi Basuki

“Toh uang beranak dan susuku itu penopang perut gendut dan kumismu kan?

“Satu lagi, harga pantat montokku yang sering kau naik turunkan bak resleting celanamu

“Lalu sanak saudaraku yang kau kirim jauh dari seberang pulau sana

“Kangkang-mengangkangi, pandai benar kau ini.” kata sapi

Bagaimana mungkin sapi tulen dengan produksi minim bisa penuhi kemauan susu atas anak, istri dan pelanggan?

Jelas kau perlu dikawinkan dengan semen beku sapi lain.

Biar susu banyak dan performan iklim tropis tetap berada pada tubuhmu. 

Biar susumu banyak, kubagi pula untuk anakmu!

Berbagi dengan anakku, dan anak negri lain yang mampu beli

Ah, sapiku sayang, kau tercipta, disilangkan dan diberi makan untuk tujuan itu!

Jangan kau proteskan takdir, kau lebih mulia ketimbang pelacur itu

Yah, meskipun kawinmu ber siklus, aku tak bodoh dalam mengawinimu.

Bahkan tanganku lihai membuatmu tercandu kepuasan atas tanganku

Kalau istriku?

Dikawin kapan saja mau

Sapi, kau tahu?

Itu semua kata dosenku

Sekat antara Ruang Kelas dan Kamar Kos, 16 September 2016

Gending Serani yang salah tempat tuk mengigau dan aku yang masih berburu kantuk.

PANJANG UMUR SAPI!

Uban

Oleh: Tutus Pambudi

Pagi ini, uban ku bangun pagi sekali. Kira-kira pukul tiga dini hari.  Padahal kabut pun belum rontok seluruhnya. Uban ku bernama Weling, berpotongan rambut sebahu. Matanya tajam namun hidungnya tak seberapa mancung. Giginya berderet rapi seperti pagar. Ubanku tak berkelamin, perangainya lembut nampak seperti anak gadis. Tapi kau tahu? Ketika dia marah, tak ubahnya seperti preman pasar jika sedang kalah berjudi dan sedikit mabuk. Taring tajam, mata merah, agak sempoyongan.  Umpatannya berceceran, mengalir, mencari sepotong hilir di dalam kue.

“Aih, pagi sekali kau bangun? Kau tahu? Aku ini baru terlelap tak kurang dari tiga puluh menit, kurang ajar!” umpatku

“Salah mu sendiri, kenapa kau musti ikut terjaga. Aku tak menyuruh matamu terbuka.” Ubanku mengelak

“Kau ini mengetuk batok kepalaku paham?! Tiga kali gerakanmu itu cukup tuk mengguncang-guncangkan kepalaku!” emosiku merambat naik

“Loh itu jua salahmu, kenapa aku harus tumbuh di bagian tubuhmu? Sejujurnya aku tak mengharapkan tumbuh di kepalamu. Toh dahulu waktu seribu tahun yang lalu kau melapisiku dengan minyak-minyak wangi nan klimis lalu menyisirku dan berkaca. Tiap hari, setiap hari! Dan aku tak mengeluh bukan?” ubanku mulai beralasan

“Ah bangsat! Uban tak tahu diri, sudah untung kau kubiarkan hidup di kepalaku. Tahu apa kau? Beraninya menceramahiku. Mati kau weling!” umpatku

Aku mengambil gunting di dapur, berkaca. Mencari-cari goa si Weling, ku temukan dia di bawah tangga dekat sumur dan tempat mencuci. Aku cabut, lalu ku gunting menjadi empat bagian.

“Mati kau Weling, mati kau!” aku kesetanan

Lenyap sudah si Weling dikunyah waktu lalu masuk ke dalam dimensi tong sampah. Aku lega, setidaknya tak ada lagi yang mengetuk kepalaku.
Sepuluh menit berlalu.
Dua puluh menit berlari.
Delapan jam empat puluh menit terlewati.

Aku merasa aneh, ada yang tak beres didalam hidungku. Ada yang berdering.

Kring.. Kriing.. Kriiing..

“Bah, siapa pula yang bermain dengan tombol bel siang bolong begini?” batinku

Kulonuwun, mas.” lembut suara dari dalam lorong hidungku

Ternyata si Lasmi datang berkunjung. Seperti biasa, langkahnya terseok-seok melewati lorong panjang didalam hidungku. Ya si Lasmi, satu lagi uban yang sudah aku hafal benar.  Berhidung bengkok dan mata bulat. Gempal, nafasnya bau. Telinganya sepanjang meja belajar. Tapi bicaranya halus, seperti nasihat Ibu kepada putrinya

“Ada apa Las? Kau mencari apa? Kalau mencari si Weling, dia sudah tenang didalam tong sampah.” ucapku malas

“Bukan mas, saya hanya ingin mengetahui kabarmu

“Aku dengar pagi buta tadi kau mengamuk lagi, sudahlah mas ingat penyakit jantung yang kau pelihara itu

“Baiknya istirahat saja dan nikmati masa tua mu dengan berbicara dengan senja dan secangkir teh di pelupuk petang.” ceracau Lasmi

“Ya.. ya… yaa.. Terserah kau lah Las. Jikalau aku hanya menghabiskan waktu dengan bersantai, aku tak bisa membeli Toyota jenis baru lalu aku ingin pergi haji lagi Las.

“Lihat Pak Rt kita, dia hanya pensiunan guru tapi bisa pergi haji dua kali.

“Sedangkan aku, pensiunan Sersan masa tak mampu.

“Dan jikalau aku hanya mengandalkan uang pensiunanku, aku bisa apa?

“Kau sendiri tahu kan, biaya makan, pajak tanah, uang sekolah anakku, gincu istriku, liburan kami itu tak murah Las.

“Jikalau aku hanya diam saja, aku bisa apa Las.” balasku tak kalah cerewetnya

“Tapi mas.. Badanmu itu sudah tak sebugar dulu, kaki dan tanganmu pun acap kali gemetar kan mas? Akui sajalah, kesehatanmu sudah tak seberapa.” kata Lasmi

“Ah sudah lah Las, kau lebih baik diam. Cukuplah menontonku dari lubangmu. Toh kau hanya sehelai uban. Tahu apa kau soal ku?” emosiku datang lagi

“Tapi mas dengar dulu……” 

Belum sempat Lasmi menyelesaikan kalimatnya cepat-cepat aku mencabutnya dari  pelataran hidungku. Sakit memang, mataku pun tak bisa memungkiri. Sedikit berair dan hampir memerah.

“ Dasar uban sok tahu!” umpatku sambil melempar Lasmi ke dalam tong sampah

Waktu terus menggelinding menuju ujung hari.

Di setengah lima, aku mulai sibuk dengan pelangganku. Botol-botol sudah berjejer, gincu dan bedak sudah parkir di tempatnya. Aku mulai mengabsen wanita-wanitaku satu persatu, sekuriti, lalu bagian resepsionis. 

“Baiklah, lengkap sudah” kataku

Tiba-tiba terdengar suara aneh dibelakang telingaku, seperti membaca puisi. 

“Ya Tuhan, suara siapa lagi ini?” ucapku jengah

Suaranya lirih tetapi terasa menyiksa. Seperti sebuah elegi pemecah kebisuan malam.

Jelaga

Nadiku melambat

Nadiku melemah

Nanarku menatap potretmu di buku

Kini aku temukan arti kata jelaga

Yaitu sesuatu yang menimbulkan asap hitam

Hati..

Lalikan ini jika mampu dilalikan

Tetapi teramat sayang karena sayang

Aku diminta tidur

Saran kawan

“ Matamu sembab begitu, tak payahlah  lagi belajar!”

Aku diam

“ Hatiku berjelaga! Kini”

Mereka diam.

“Bodoh!”

Aku meracau

“Dia yang bodoh!”

Mereka mencerca

Hatiku berjelaga

Kini


Suaranya perlahan habis sejalan tertutupnya tirai panggung di belakang telingaku.

“Aih, siapa lagi ini? Siapa kau wahai tuan pembaca?” teriakku

“Rupanya kau sudah lupa denganku,suaraku pun kau tak hafal benar? ucap tuan pembaca

“ Tak usah banyak bicara dan berputar-putar, aku tak punya banyak waktu berdebat denganmu.

“Sudah dua helai uban yang berdebat denganku hari ini kau tahu!” bentakku

“Baiklah, tak usah kau repot-repot memaki ku atau niatanmu tuk mencabutku.

“ Tenang saja, aku hanya akan menyampaikan pesan.” katanya lirih

“Sudah cepat katakan!” bentakku

“ Jangan lupa soal asalmu tuan, dan dirimu?

“Sudah yakinkah kau atas dirimu?” nadanya berat

“Ah, bicara apa pula kau ini! Sudah, waktuku mepet! Cepat pergilah.” ucapku malas

“Baiklah tuan, saya mohon diri. Hati-hati di jalan.” katanya teduh

Satu lagi uban jatuh rontok dari kepalaku dan masuk ke dalam tong sampah.

Malam semakin tua, burung gagak sudah mulai kelayaban.  Pekerjaanku kini telah usai, aku bersiap tuk pergi tidur. Merapikan uang dari dompet kedalam sangkar di lemariku. Membersihkan tanganku, janggut dan mengerok gigiku. Berbicara dengan diriku yang satunya di dalam kaca.

“Kau makin hari makin tampan saja. Hahaha.” aku terkekeh 

Malam ranum sudah, aku di atas ranjang. Menindih beberapa bantal guling.

Satu..

Dua..

Lima..

Mataku terpejam. Aku menghitung domba, memburu kantuk. Sialnya, tak sampai jua aku di pelataran mimpi. Aih mataku memang terpejam, tapi gema suara Weling, Lasmi, dan Pak Tua berjanggut tadi masih saja berputar-putar di kepalaku. Seperti kekal, ah sial! Suara mereka beriringan dan tetiba ada banyak suara serupa di atas kepala, lubang hidung, telinga hingga tangan dan kaki.

“ Uban sialan! Bangsat, bangsat, bangsat. Uban bangsat!” makiku dalam hati

Aku ingin bangkit dari kasur, tapi badanku serasa kaku. Dan mataku, tetap terpejam. Tak bisa terbuka sedikitpun. Hanya gelap, semakin pekat, makin pekat menuju ketiadaan. 

Malam semakin tua, waktu terhenti bersama lolongan uban dalam tong sampah di tempurung kepalaku.
Tamat

Bawa Aku Pulang


Aku melukis bayanganku dengan warna-warna

Tentang ruang kosong yang kian meredup

Aku memelihara batu, air, rumput dan sedikit cahaya

Lalu pagar yang kecoklatan dan setapak

Tapi mengapa aku tak bisa menemukan jejakku di pelataran?

Siapa yang menghapusnya?

Hanya ranting dan dedaunan yang menatapku bisu

Senja pun sepertinya tak berniat mengantarku pulang

Tolong!

Kamu

Kalian

Atau siapa saja, tolong!

Bawa aku pulang
September 2016

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai