Oleh: Gending dan Tutus Pambudi
Beribadah pada perut yang kian bernyanyi seumpama alunan angin menjadi kian nyaring. Ibadah macam petualang yang bersinggah pada dangau cantik dengan seribu kenyamanannya. Tepat kala dentingan pembicaraan menjadi terindukan, dan pemupuk kelam jadi nyata pada kalut ibadahku jadi sunyi.
Tik-tok-tik-tok-tik-tok…
Serupa bom, waktu berguling ke arah depan.
Tik-tok-tik-tok-tik-tok…
Detak lemah berkeliaran.
Ting!
Barista sudah siapkan satu piring penuh roti beserta kawananya, lalu segelas kopi pahit tanpa gula.
“Siap!” kata sang barista.
“Waah, aku terbayang ini ketika membuka mata tadi” ucap Maria.
“Bisa begitu?”
“Kadang kenyamanan menciptakan begitu banyak kerinduan, salah satunya ini” Maria mengucapkan sambil menunjuk rotinya.
“Sering-seringlah kemari.”
Maria hanya melahap rotinya.
Menyiapkan pagi dengan sepiring perangkat kehidupan. Maria mencoba bangun dari tidurnya.
Mimpinya membayang, ia tahu kemana harus pergi kala itu. Tapi hati dan pikirannya kosong, membenarkan selimut saja yang ia lakukan. Ia tau pagi begini hanya ada hiruk-pikuk kehidupan didalam kampus. Tapi ia tetap pergi, ke sebuah gubuk penyedia keselamatan akan bahagia.
Maria bergegas, sejurus dengan langkahnya menyecap pelataran. Menuju sebuah lorong dengan setapak kecil yang mereka katakan sebagai rumah. Tentang pendar matahari pagi yang menerobos jendela kamar, hiruk pikuk ibu dan pedagang sayur keliling atau roti saat sarapan pagi.
Langkahnya terhenti di sebuah negeri kecil berlatarkan air terjun 30 meter tingginya, yang basahnya mencapai 5 meter jauhnya. Airnya seperti hujan membasahi bougenville sekitarnya dan menjadikannya subur dan merekah berwarna-warni. Maria menghirup nafas dalam-dalam, rambutnya basah dan bibirnya merekah. Tas kuliah hanya ia letakkan bersama sepatu tuanya pada sebuah ranting.
Jejak langkahnya yang tertinggal di pelataran, kamar mandi, ruang tengah, meja makan, sofa lalu ranjang pun ikut mandi. Dedaunan ikut menyabuni Maria. Kupu-kupu, ulat bulu, dan pohon cemara adalah kerinduan di dalam mata Maria.
Ia kembali pada ingatanya di gubuk, hei ini perihal gubuk kan? Atau sebuah negeri? Atau kamar mandi? Atau pelataran bersama Ibu dan sepotong senja?
Aih, ingatannya berceceran tentang sesuatu yang ia sebut rumah.
Maria mengacak rambutnya. Itu hanya sebuah ingatan rupanya. Ia segera mengambil air putih dan mengenakan celana jeans dan kaos hitamnya. Menyambar ranselnya, mengenakan sepatu tua dan melangkah keluar.
Mencari apa yang ia sebut rumah. Bukan! Apa yang ia rasa sebagai rumah. Yang menentramkan hati, lebih dari ranjang dan selimut atau sepiring roti dan sendok garpunya.
“Aku pasti menemukanmu, rumah!” batin Maria.
Langkah kakinya berjejal mantap, setegas mata mentari pagi ini.
Maria terhenti pada penjual serabi, perutnya meminta adonan berbentuk ampar tersebut.
“Bu, serabine pintenan?” Maria bertanya dalam bahasa krama.
“Setunggal ewu mbak, ajeng tumbas pinten?” ucap sang ibu.
“Sekawan mawon bu..”
Empat serabi sudah berada pada kantong plastik, tinggal ia memilih kemana kaki membawanya. Ia terbayang lagi pada dangau, air terjun atau tempat ayah dan ibunya bertetap. Bayangannya pada rumah menjadi simpang siur.
“Kaki, tolong bawa aku menuju rumah.
“Rumah tanpa kepura-puraan, tanpa ini dan itu yang menjejali pikiran.
“Wahai rumah, jemput aku secepatnya.” Bisik Maria.
Langkah kakinya berayun ringan menuju ke antah-berantah. Tangannya digenggam angin yang ikut melangkah bersama Maria. Matanya seperti kosong, masih meraba. Telinga dan otaknya merangkai sebuah peta. Terbayang sejumput semak belukar dan wewangian tanah dicumbu hujan.
Sampailah ia di sebuah perempatan bersekat bambu.
Kakinya berbelok ke kanan, menuju tanah yang basah. Ia tetap melangkah membiarkan sepatunya kotor dan membawa tanah. Hidungnya semakin tajam mencium bau tanah basah, yang selalu ia rindukan. Sesekali Maria menunduk dan tersenyum pada penduduk. Sampai ada bocah kecil saling berlarian. Namun terhenti kala Maria menawarkan serabinya.
“Terimakasih mbak” ucap bocah-bocah kecil.
Maria hanya tersenyum. Kakinya melangkah kembali, menyebrangi pematang sawah. Burung kuntul saling bertebangan, ada pula sawah yang kering kerontang dan bau tanahnya menyengat. Maria kembali terpikir rumah.
Kalau sawah itu rumah, ada kalanya membajak, menanam dan panen. Ada pasang surut dan ada pula tawaran rumah yang lain kala kekeringan melanda. Itukah rumah? Atau sebuah keteduhan ketika pulang, dan setiap saat rindu diteduhkan.
Maria menulisnya dalam catatan kecilnya, lehernya tercekik haus namun kakinya tetap melangkah. Terbayang sebuah sungai dan air dingin yang melewati kerongkongan.
“Masih lima meter lagi…” ujarnya.
Ia berlari kecil, menuruni tangga tanah basah. Meneguk air sungai dengan tangannya.
Menyeberang pada bebatuan licin, memasuki hutan syahdu yang menyambutnya dengan angin kecil dan menyibak rambut panjangnya, menelisik dalam hatinya dan membisik dingin pada telinganya. Ia tetap membayang rumah diujung tujuan.
Maria membuka botol minum, meneguknya setengah. Membasuh peluh yang luntur di pelipisnya, matahari tepat sudah diatas kepala. Maria merebahkan punggungnya yang sedari tadi menanggung beban berat ransel yang di gendongnya. Bersandar di sebuah akar pohon yang ia pun tak tahu namanya.
“Inikah rumah?
“Sejujurnya aku nyaman dengan lingkungan seperti ini, tanpa hingar bingar dan kerlipan gincu di ujung jendela.
“Atau bibir yang nyinyir ketika pagi buta, sial! Aku pun sebenarnya tak mau hidup dengan segala tetek bengek yang mengepungku, memperkosa pikiranku.
“Dosa kah aku ketika aku meninggalkan ruang kuliah dan memilih menuruti nafsu langkahku?
“Dosa? Sesungguhnya apa itu dosa?
“Ah, kerongkonganku penat sudah.” Batin Maria
Maria beranjak lagi dari tempatnya. Berjalan menuju tempat lain yang sudah ada dalam bayangannya. Menyusuri hutan dengan sinar matahari menyembul sedikit, ia mengusap dahinya. Terlihat sudah bangunan kuno itu yang ia idamkan untuk berteduh. Ia berjalan semakin semangat, sampai didepan pintu kayu tinggi besar dengan bangunan batu dan semen. Ia membuka gembok kayu pada pintu, membiarkan cahaya masuk lewat pintu. Matanya memandang kedepan, sebuah patung Isa Almasih di salib dengan seuntai kain pada kemaluannya.
“Inikah rumah? Atau sekedar tempat beristirahat?
“Memang aku nyaman berlama-lama di tempat ini.
Datanglah seorang pendeta, bertanya;
“Dari mana, mau kemana mbak? Tas mu lebih berat dari berat badanmu nampaknya” ucap sang pendeta.
“Dari rumah romo, ingin mencari rumah.” Jawab maria.
“Memang apa itu rumah?” tanya Romo itu, dari perawakannya tinggi dan tubuhnya sedikit berisi.
Maria hanya menunduk.
Romo hanya tersenyum, merangkul Maria ke sebuah tempat duduk dan Romo itu duduk. Berjengkeng dan memposisikan tangannya layaknya orang sedang berdoa.
“Tak bisa kau jawab? Bagaimana kau mencari sesuatu yang tak bisa kau deskripsikan?”
Maria merasa matanya panas.
“Mungkin sebuah tempat untuk pulang, Romo”
“Apa itu pulang? Apa itu singgah? Kalau hanya sekedar kenyamanan, duduk di Surau pun kau pasti nyaman”
“Betul Romo, ditempat suci manapun sungguh meneduhkan.”
“Jadi, dimana rumahmu?”
“Entahlah, Romo”
“Bersyukurlah.”
Mata Maria makin memerah, perasaan rindunya akan rumah semakin menjadi. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berpamitan kepada sang pendeta. Tubuhnya seperti melayang, menuntunnya untuk segera pulang. Tetapi pulang kemana? Maria masih kebingungan, ling-lung. Kakinya berderap selangkah demi selangkah menuju pintu.
“Kaki bawa aku pulang sekarang” bisiknya pelan.
—————————————




