β
Kekasihku, lihatlah beberapa ucap dari bibir jam dinding itu
Bahasa yang beku tapi masih bisa kau dengar kan?
Gatra ucapnya memintamu lelap sebentar
Rehat lah barang sekejap, gerbong aksara menjemputmu 2 menit lagi
Atau engkau enggan jadi yang kelelahan?
Sebab sedari tadi lalu lalang?
Putar lah putar sepasang jarum didalam jam itu
Kini waktu sepenuhnya jadi kuasamu
Aku tak peduli malam telah renta atau senyumu yang sedari tadi mangkrak di pojok kamar tidurku. Tapi…
Tapi, jarakku denganmu enggan didekatkan
Sebab engkau jadi sibuk dengan sepasang jarum di dalam jam dinding
Kini waktu sepenuhnya jadi kuasamu, Sayang
Aku didalam etalase waktu
Satu, dua, tiga detik
delapan menit, tiga jam
setengah hari
Akankah aku dimati?
Sekotak waktu siap ku lahap
Segelas penuh es batu siap dihidangkan
Lalu diam bersama bait bait puisiku sendiri
Akankah aku dimati?
Mataku, tinggal seperempat
Gerigi waktu berderit
Tanganmu tak lagi di jangkauanku
Ruhku, kian melarat hasrat
Jemari waktu menjerit
Bayangmu tak lagi di pelataranku
Membeku
Lalu lalang
Jejak langkah
Hidung
Bibir
Tarian waktu bertempo konstan
Engkau menjadi sedu
Kemudian berlalu menjadi sedan
Waktu
adalah sekat yang memanjang dari ujung hidungmu menuju kedalaman mataku
Biar kutemuinya, biarkan aku membunuhnya, menghabisi nyawanya
Agar ia berhenti menyiksa kita
Dengan rindu yang sedemikian rupa
Teruntuk pemilik sepasang mata selayak purnama.
Jarum jam menunjukan setengah lima
Ya, aku jatuh cinta
03 September 2016
Hasil ngutak ngatik kalimat bareng mbak alohamore.wordpress.com
Selamat beribadah puisi π


