Wangi langkah menapaki tanah basah.
Dan guratan awan lagi-lagi menutupi langit.
Aku menjemput senja di bingkai jendela.
Adalah jarak kotamu dan kotaku menyatu di seduh dengan segelas teh hangat.
Dan barisan kata adalah gerbong pengikat keduanya.
Aku terus memilin waktu.
Diksi ini menyepi, tak mampu hantarkan rindu.
Ialah aku yang terduduk di peron menunggu.
Rupanya langkahmu tak jua tiba.
Padahal aroma tengkukmu kekal di lubang hidungku.
Erotisme hujan dan tanah menyatu menjadi lanskap pada kotak kaca.
Berjingkat, menari, lalu berpagutan.
Tirai ditutup dan pentas selesai.
Sial, mataku masih berkabut. Tebal dan makin tebal.
Dan rindu, makin hari makin rimbun daun nya.
Ya, hujan menahanku disini.
Disebuah etalase.
Menambah penggalan episode perjumpaan kita.
Tenang sayang, aku selalu merawat rindu dan memelihara waktu.
Sore nanti ketika langkahmu tiba diberanda.
Segelas rindu dan setoples waktu siap tersaji untukmu.
Jendela, 29 Agustus 2016
Untukmu yang pandai merawat rindu
