Sore Dengan Segelas Rindu

Wangi langkah menapaki tanah basah.

Dan guratan awan lagi-lagi menutupi langit.

Aku menjemput senja di bingkai jendela.

Adalah jarak kotamu dan kotaku menyatu di seduh dengan segelas teh hangat.

Dan barisan kata adalah gerbong pengikat keduanya.

Aku terus memilin waktu.

Diksi ini menyepi, tak mampu hantarkan rindu.

Ialah aku yang terduduk di peron menunggu.

Rupanya langkahmu tak jua tiba.

Padahal aroma tengkukmu kekal di lubang hidungku.

Erotisme hujan dan tanah menyatu menjadi lanskap pada kotak kaca.

Berjingkat, menari, lalu berpagutan.

Tirai ditutup dan pentas selesai.

Sial, mataku masih berkabut. Tebal dan makin tebal.

Dan rindu, makin hari makin rimbun daun nya.

Ya, hujan menahanku disini.

Disebuah etalase.

Menambah penggalan episode perjumpaan kita.

Tenang sayang, aku selalu merawat rindu dan memelihara waktu.

Sore nanti ketika langkahmu tiba diberanda.

Segelas rindu dan setoples waktu siap tersaji untukmu.

Jendela, 29 Agustus 2016

Untukmu yang pandai merawat rindu

Dongeng Penghantar Tidur

Aku membaca dongeng penghantar tidur.

Tentang bani Adam.

Telah lupa merasa.

Hanya mendengar, melihat bentuk, lalu berbicara.

Didalam dada tak ada lagi beranda atau perapian.

Apalagi ranjang.

Hanya toa dengan baterai berkarat.

Mulutnya berbusa, sialnya gir-gir dikepala kurang oli.

Aku mendengarmu, namun hanya udara kosong yang sampai ditelingaku.

Dan gumpalan liur adalah yang memang tak pernah dialami.

Inderamu lengkap, tapi susah digunakan.

Mulutmu satu, lalu?

Dia kah peta?

Kau tak menjawab, bibirmu jadi terkunci.

Kenapa harus berlomba-lomba menjadi bungkus chiki?

Menuhankan ibu jari,

Adalah benar, ialah salah.

Narsistik.

Gombal!

Semoga kau tak jadi manusia di mimpimu.

Selamat tidur.
Kolong ranjang, 28 Agustus 2016

Minggu

05.59 pagi.

Satu di ujung tujuh.

Sang surya rupanya terlambat.

Padahal sudah dari pagi benar aku menjemputnya.

06.00, lepas satu menit.

Ternyata dia berselimut awan.

Pantas saja telat.

06.02, waktu terus melangkah.

Akhirnya hidungmu tampak jua.

Kopi tandas setengah.

06.05, guratan awan dan bulat penuhnya mentari membentuk lanskap.

Mungkin pagi ini akan sedikit berawan.

Demi jemariku dan lumuran cat di tiap celah kuku.

Selamat pagi segelas gayo dan berbatang-batang kretek.

Atap, 28 Agustus 2016

Tentang Sepatu

Menyulut kretek sebatang.

Antara perempatan Dukuwaluh hingga Kebasen.

Di bendungan gerak Kali Serayu, terjaga.

Berenang dalam legitnya segelas gayo.

Memecah malam, tanpa deru kenalpot.

Aku, melepas segala pernak-pernik dan jubah.

Duduk diantara asap tembakau.

Kawanku pandai meracik kopi dan sepiring nasi goreng tanpa mecin.

Diberinya aku jampi-jampi.

Tentang alas kaki yang akan menemani langkahku esok.

Tak perlu terlihat mewah, yang penting pas ukuran.

Tak usah mahal-mahal, tapi jangan lupa lah berselera.

Sepatu apapun asal pas denganmu akan terlihat cantik.

Perhatikan saat menimbang, jangan lagi kau kecolongan.

Yah memang, aku hanya berkendaraan kata.

Mungkin pincang sebelah dan lebih suka berlama-lama bercengkrama dengan pohon.

Atau menonton biang lala dalam opera pasar malam.

Tawaku lebih renyah jika dipadu dengan asap kretek dan segelas kopi pahit.

Seperti malam ini,

Tak ada yang lebih menarik memang dari obrolan warung kopi.

Sentilan-sentilan tanpa perlu memukul.

Mulai dari obrolan seputar kelamin, biaya kontrakan hingga isu kenaikan harga rokok.

Disela-sela kelakar dan kepulan asap kretek.

Adalah nama-nama yang kerap berlalu-lalang.

Terima kasih.

Aku tetap tumbuh.

Kedai Bedjo , 27 Agustus 2016

Sajak Dharmadi

​Malam tua telah tidur.

Menyisakan aku dan sepotong sajak Dharmadi.

“Kalau Kau Rindu Aku”

Kalau aku tak lagi ada.

Kau rindu mencariku.

Bukalah pintu puisiku.

Masuklah,

Aku abadi disitu.

(Dharmadi 2011)

Deretan kata Dharmadi menambah cita rasa dari Espresso dan kretek murahanku.

Pagi nanti aku mau ke tukang kayu.

Mencari pintu, untukmu agar rindu puas menyerap sariku.
Purwokerto, 25 Agustus 2016

Orkes Menunggu Mati

Rerumputan penuhi langit-langit.

Kepulan asap menggunung, berebutan penuhi kerongkongan lalu parkir di basement paru-paru.

Aku berada di perahu dengan geladak penuh tambalan.

Kompas pecah, dan dosaku saat berseragam putih merah. Sungguh aku tak paham tentang pelajaran mata angin.

Aku limbung, terhuyung-huyung di hantam renyahnya ombak setinggi 8 kaki.

Orkes menunggu mati, benarkan?

Ah andai saja siang tadi tak robek, dan Bob Marley tak bosan bernyanyi Redemption Song nya untukku.

Langkahku hampir menyerah tuan-tuan.

Silahkan bertepuk tangan yang meriah.

Aku rindu itu, sungguh aku rindu.

Kau tak lihat ujung batang hidungku memerah?

Dan sapi-sapi itu tak letih tuk selalu diperah.

Ujung kakiku berderap ala balerina.

Melewati pinggiran panggung lalu loncat turun.

Kerai-kerai penutup lepas.

Lunas sudah malamku.

Terimakasih para buku dan kutu-kutu penghisap darah di batokku.

Biarkan aku menguap.
Purwokerto, 23 Agustus 2016

Elegi Tunagrahita

Di deretan gigi rapi yang mulai menguning, dan riuh tepuk tangan dalam kepulan asap tembakau.

Abuku jatuh dalam pekatnya gelas kopi.

Gulita, dan malam adalah satu-satunya lentera di dalam rak.

Aku membaca buku tua penuh cabikan di tiap halamannya.

Goresan-goresan terbuka berlarian bak anak kecil mengejar layangan putus.

Bibirku mengatup rapat saat meruntut kata demi kata.

Semerdu lantunan Etalase dalam Centralismo, Puan bergincu hitam dengan bola mata sayu liar menari.

Terhuyung ke kanan lalu melenggok ke kiri.

Suaranya parau, terhalang tembok berjejal umpatan.

Aku berhenti di persimpangan, hendak menoleh tapi tak bernyali.

Kenapa gerimis tak kunjung datang? Padahal langit kelabu sudah.

Dalam hiperbola yang tak berujung ini, aku tertawa lepas dengan taring yang tumbuh tiada henti.

Tak ada, tak satupun mau mengerti.

Karena aku lah si tunagrahita katanya.

Sesempit itu kacamatamu?

Lucu, seperti Doktorandus dalam baliho.

Aku duduk di kursi goyang, bercerita tentang buku lusuh tanpa sampul.

Dan kopi yang berubah warna dari hitam menuju biru.

Adalah malam yang menjemput.
Purwokerto, 23 Agustus 2016

Mengeja

Seperti sedang mengeja.

Di sepertiga malam dan temaram neon di ruangan 3×3 meter.

Perihal nama-nama yang kian lama kian pudar.

Tapi tak berlaku untukmu.

Sepertinya tak perlu aku berusaha keras, adalah benar jika bayangmu memiliki segulung peta dan kompas untuk selalu pulang.

Melalui jembatan dan ujung hidungmu.

Bola mataku blingsatan.

Selalu gugup ketika kau mengetuk pintu.

Halo, spada.. Ada orang didalam.

Suaramu tak pernah berubah, aku hafal benar.

Semuanya!

Mulai dari patukan bibirmu, lidahmu yang menari penuhi mulutku.

Pelukanmu pengganti selimut di sela malam.

Kecupan dikeningku ketika aku tertidur dengan mulut setengah menganga.

Adakah yang lebih indah selain menatapmu di pagi hari dengan separuh muka berkerut kain sprei dan tangan di bawah bantal?

Sialan, ingatan ini mengerak didasar kepala!

Rambutmu yang tergerai sebahu, senyum teduh ala seorang ibu.

Atau Ana Sui Dream yang bertengger di kerah baju dan lehermu.

Bunga lili, mawar, kayu cedar.

Bahkan nama-nama gang di sekujur tubuhmu aku mengingatnya senti demi senti.

Dari gang bougenville 2 hingga  yudhistira.

Ah sial, setapak selalu membawamu pulang.

Hanya bayanganmu, tak lebih.

Sisanya? tak perlu kuterka lagi.

Bukan milik siapa-siapa.

Hanya senja dan rerumputan yang bisa memilikimu.

Kau suka menyendiri.

Berkawan angin, menggandeng pepohonan, bersuami senja.

Terlebih lagi ketika gerimis menari di pelataran.

Sudut gelap mataku pun tahu jika kau sedang berjingkat ikut merayakan bersama rerintik disana.

Memang benar malam ini aku sedang mengejamu puan.

Dibalik tikar dan rimbunnya bantal.

Chéri, tu me manques.
Purwokerto, 22 Agustus 2016

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai