/1/
Sewindu di depan pintu, menunggu diketuk.
Seharusnya tepat pukul 2 tadi dia datang.
Menjemput mataku yang kosong.
Rupanya angin lebih lihai dalam mengetuk pintu.
Bukan, ini bukan perihal mengetuk.
Tetapi tentang getaran dalam sebuah ketukan.
Ritme konstan tanpa meragu.
Di tiap bibir pintu yang terketuk.
/2/
Maaf, aku tak punya bel yang dapat kau tekan.
Aku hanya memiliki pintu.
Dan jika adalah perumpamaan.
Serta ada jembatan diantara sebelum dan sesudah di setiap kejadian.
Lalu siapa yang akan mengetuk pintuku?
/3/
Pintu-pintu itu berbaris terbuka untuk setiap pertemuan.
Dan mungkin akan kembali tertutup kala perpisahan tiba.
Teruntuk puan si penunggu pintu.
Sudahi saja pestamu, karena lunas sudah aku baca seisi otakmu.
Dan hatimu? Tak perlu mulut ini terbuka.
Aku tengah merapalmu di depan pintu.
/4/
Di balik pintu aku gemetar.
Kalimat apa yang pantas kuucap pada lelaki itu.
Sedang separuhku yang lain tak henti-hentinya mengutuki kelimbungan pada diriku.
Ah, aku ingin menjelma sofa di beranda supaya bisa menjadi tempat mengistirahatkan punggung ketika lelahmu mencapai cukup dalam kalimat tunggu.
Maafkan banal ini, tuan.
/5/
Waktu berdesir pelan.
Tak ada spasi di dalam ketukan, bukan di depan pintu.
Getaran demi getaran menyatu, berada di dalam E mayor.
Selepas petang aku berdawai dan bergumam.
Entah akan berakhir di sebuah titik atau koma.
Seperti sebab dan akibat.
Kau menggerayangiku lalu mulai menelanjangiku.
Dari ujung jari tertua ku hingga rambutku yang bercabang.
Ada getar diantaranya, jelas! Sesungguhnya kau dapat melihat jelas. Karena kini tak satupun kain penutup ku miliki, bening.
Aku mengetuk sebuah pintu.
Berbicara dalam hening melalui hati ke hati.
/6/
Begitu juga kau, aku menyukai sunyi.
Sisi teriuh dimana masing-masing kita dapat memilin kejadian kemarin lalu mengaitkan dengan tali-tali berwarna putih.
/7/
Gelapnya langit menyampaikan isi: sebening dan putihnya langit, tetap saja ia menyimpan air.
Hujan jatuh di ketukan terakhir.
Dan aroma tanah kering dikecup hujan menjadi penunjuk jalanku menuju rumah.
Purwokerto 12 Agustus 2016
Dini hari tak melulu soal kantuk, di sudut sini masih ada empat mata yang memilih untuk tidak mengemas malam terlalu cepat. Dan memang kami masih asyik mengetuk tombol-tombol di dalam layar pintar sehingga berbuah prosa di atas.
Selamat beribadah puisi. Salam!
tepatsetengahlima.wordpress.com
inakusumawati.wordpress.com