Sederet Kata Pada Sebatang Lisong

Pelataran langit memerah pertanda senja kian beranjak.

Dan bola mataku masih berayun di lembayung tua.

Adalah sebuah kotak musik berhias padang ilalang.

Berisikan memoar tentang perjalananku.

Percakapan di sebuah monolog.

Antara aku dan ibu.

Teduh adalah nyanyianmu disetiap jejak langkahku.

Jampimu berjejal, hangat menaungi.

Di setapak yang terkadang curam dan mendadak berkelok.

Dan perlahan ayuhan kakiku hilang tergerus hujan.

Hingga sesaat kompasku retak.

Lejar,

Termangu dihadapan pertunjukan shubuh dengan mata berkantung hitam.

Adalah tanganmu yang menuntunku pulang.

Tak ubahlah senyumu menjadi gir-gir dalam roda asaku.

Aku, memandangi pelataran.

Kerut wajahmu tampak di kepulan asapku.

Sederet kata pada sebatang lisong.

Ibu, aku pulang.
Purwokerto, 19 Agustus 2016

Teruntuk para perantau

Abstrak

Pada kepulan asap dan basuhan kopi hitam.

Aku adalah pena, adalah kuas, adalah goresan.

Menjelma di kaleng-kaleng cat, dan kibasan-kibasan beirama.

Getaran itu jelas, aku tak perlu rekaman-rekaman atau ceracau-ceracau bak melodi sendu.

Tak ada yang lebih primitif dari ini.

Didalam tarian-tarian liar, otaku bergumam pada ketukan.

Dan dalam warna yang masih kuraba.

Tiba jua aku di hadapan potongan-potongan mosaik.

Ku tata ulang menjadi sebuah panorama.

Dan ku hadirkan sebuah pertunjukan rasa.

Sebuah kanvas dengan berjuta warna, bukan lagi pot bunga atau pecahan kaca jendela.

Ini tak berbentuk, lebih.. Lebih megah!

Nalar, jangan hentikan aku malam ini!

Segala ritmemu dalam sebuah abstrak.

Purwokerto, 16 Agustus 2016

Teruntuk pelukis yang buta warna.

Bung!

Bung tanah kita masih berdarah!

Bung tanah kita kian memerah!

Bung kini sekat kehidupan setinggi gedung pengoyak langit!

Manusia makin lupa perihal menjadi manusia.

Alam diubahnya sebagai pelacur diantara koloni hidung belang.

Gombal!

Kami dimiskinkan di tanah sendiri!

Jangankan pendidikan yang kian mahal, bahkan tuk sekedar membeli pakaian atau mengasapi dapur kami pun kelimpungan.

Bung, pecah sudah tangis kita.

Dan memang perjuangan tak lagi soal tajamnya bambu runcing.

Atau pelor-pelor yang menembus kerongkongan teman seperjuanganmu.

Perjuangan kami melawan bangsa sendiri.

Demokrasi bercita-rasa feodal.

Dan tuan-tuan berdasi miring tampaknya belum puas mengkangkangi kami.

Bung memerah sudah tangis kami.

Nanar!
Purwokerto, 17 Agustus 2016

Dibawah tiang bendera, PANJANG UMUR NUSANTARA!

Keruh di Kebun Belakang

Pagi menjemput dengan tergesa.

Aku masih termangu di bangku kebun belakang.

Terjebak di rimba kata tanpa ujung.

Dengan mata terpicing sebelah, memperhatikan penghuni pot besar berwarna merah.

Hampir mekar kurasa.

Namun mengapa satu persatu dedaunanya berguguran? Bahkan sesaat setelah ku sirami.

Serta otak dan lidahku  serempak mogok kerja.

Tak mampu berartikulasi bahkan menari di barisan kata yang meluncur deras dari nalar melewati mata, telinga bahkan hidung lalu mengucur di ujung bibir seperti biasa.

Lalu bagaimana bisa aku menjelaskanya?

Dan kuncup itu perlahan mengatup, bersama rinai di depan beranda.

Pagi ini,

Terbias maaf dari kebun belakang di dalam bayanganku.

Purwokerto, 14 Agustus 2016

Sore Ini, Pukul 17.18

Imaji beterbangan, liar.

Keluar dari sangkar menuju antariksa.

Berkendaraan sepeda roda tiga bersayap merah,biru dan kuning.

Melewati barisan buku yang acak di atas kasurku.

Melambung tinggi, langit-langit menjelma menjadi lanskap dengan ribuan gugusan bintang.

Dan aku, masih menghembuskan kabut tembakau lewat hidungku.

Sore ini, pukul 17.18.

Purwokerto, 13 Agustus 2016

Kolase Di Dinding Pintu

/1/

Sewindu di depan pintu, menunggu diketuk.

Seharusnya tepat pukul 2 tadi dia datang.

Menjemput mataku yang kosong.

Rupanya angin lebih lihai dalam mengetuk pintu.

Bukan, ini bukan perihal mengetuk.

Tetapi tentang getaran dalam sebuah ketukan.

Ritme konstan tanpa meragu.

Di tiap bibir pintu yang terketuk.

/2/

Maaf, aku tak punya bel yang dapat kau tekan.

Aku hanya memiliki pintu.

Dan jika adalah perumpamaan.

Serta ada jembatan diantara sebelum dan sesudah di setiap kejadian.

Lalu siapa yang akan mengetuk pintuku?

/3/

Pintu-pintu itu berbaris terbuka untuk setiap pertemuan.

Dan mungkin akan kembali tertutup kala perpisahan tiba.

Teruntuk puan si penunggu pintu.

Sudahi saja pestamu, karena lunas sudah aku baca seisi otakmu.

Dan hatimu? Tak perlu mulut ini terbuka.

Aku tengah merapalmu di depan pintu.

/4/

Di balik pintu aku gemetar.

Kalimat apa yang pantas kuucap pada lelaki itu.

Sedang separuhku yang lain tak henti-hentinya mengutuki kelimbungan pada diriku.

Ah, aku ingin menjelma sofa di beranda supaya bisa menjadi tempat mengistirahatkan punggung ketika lelahmu mencapai cukup dalam kalimat tunggu.

Maafkan banal ini, tuan.

/5/

Waktu berdesir pelan.

Tak ada spasi di dalam ketukan, bukan di depan pintu.

Getaran demi getaran menyatu, berada di dalam E mayor.

Selepas petang aku berdawai dan bergumam.

Entah akan berakhir di sebuah titik atau koma.

Seperti sebab dan akibat.

Kau menggerayangiku lalu mulai menelanjangiku.

Dari ujung jari tertua ku hingga rambutku yang bercabang.

Ada getar diantaranya, jelas! Sesungguhnya kau dapat melihat jelas. Karena kini tak satupun kain penutup ku miliki, bening.

Aku mengetuk sebuah pintu.

Berbicara dalam hening melalui hati ke hati.

/6/

Begitu juga kau, aku menyukai sunyi.

Sisi teriuh dimana masing-masing kita dapat memilin kejadian kemarin lalu mengaitkan dengan tali-tali berwarna putih.

/7/

Gelapnya langit menyampaikan isi: sebening dan putihnya langit, tetap saja ia menyimpan air.

Hujan jatuh di ketukan terakhir.

Dan aroma tanah kering dikecup hujan menjadi penunjuk jalanku menuju rumah.

Purwokerto 12 Agustus 2016

Dini hari tak melulu soal kantuk, di sudut sini masih ada empat mata yang memilih untuk tidak mengemas malam terlalu cepat. Dan memang kami masih asyik mengetuk tombol-tombol di dalam layar pintar sehingga berbuah prosa di atas.

Selamat beribadah puisi. Salam! 

tepatsetengahlima.wordpress.com

inakusumawati.wordpress.com

Merapal 2

Memang benar, ada cahaya yang menenangkan ketika sorot matamu menelusuri rumah kaca didalam mataku.

Kepulan asap mulai beterbangan, menari-nari di hadapan remang neon di kebun belakang.

Dan sepasang laron bersentuhan diantaranya.

Lewat tengah malam lautan kata-kata menyapu habis otaku.

Semua terangkai jelas dalam ombaknya.

Buih busa berubah menjadi satu rentetan suara.

Langitpun ikut menari.

Rembulan kalah cantik sudah malam ini.

Dan percikan nyanyian jiwaku beterbangan.

Menujumu.

Semoga malamku teduh memayungi mimpimu.

Purwokerto, 12 Agustus 2016

Merapal 1

Kita berada di tanah lapang.

Saling menonton berhadap-hadapan.

Tanpa spasi diantaranya.

Kita melewati senja, dan reruntuhan temaram itu menerobos masuk lewat celah lensa mataku.

Padamu aku menghela, sesaat setelah rerumputan bernyanyi.

Diantaranya bintang dan sinar rembulan.

Serta garis lurus yang hadir diantara spasi.

Aku masuk dalam rongga di kedua matamu yang bulat.

Dan tersesat di gerai rambutmu yang lebat.

Wahai lentera dengan ruh di dalamnya.

Biarkan aku menjaga apimu.

Pandu aku di tiap langkah yang berjejak di setapak.

Purwokerto, 11 Agustus 2016

Aku Melukismu

Siang ini aku mewarnai langit.

Dengan merah, kuning, biru dan ungu.

Seakan pertanda,

Kali ini langit mulai kelabu.

Di rundung rindu katanya.

Dia biarkan dirinya berwarna dasar untuk tiap goresanku.

Aku mulai melukis,

Wajahmu.

Dengan rambut sebahu dan mata bulat.

Serta senyumu di ujung kuasku.

Ku mulai dengan menggores merah di rambutmu.

Lalu biru di kedua bola matamu.

Hijau dan ungu di senyumu.

Aku bebas melukismu,

Menjadikanmu seakan miliku.

Biarlah…

Dan rerintik saat ini seakan menjadi jawaban doaku dalam bisu, kelabu.

Kau menemukanku, aku pun.

Diantara robekan awan dan cahaya mentari yang menerobos masuk di tiap gang.

Kita bertemu di perempatan.
Purwokerto, 7 Agustus 2016

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai