Aku 2000 Tahun Lalu

Ini kisahku kemarin dulu.

Saat masih ada kepala lain di cabang leherku.

Aku menonton orkes sabun colek, aku gosok gigi, aku mandi!

Sial! Ternyata ini malam minggu. dan puting emak tak lagi berair, tak bisa dicucuk.

Senja pun menua bersama garis mataku yang mulai menipis.

Padahal ujung lidahku masih hafal benar rasa susu.

Malam menjemput.

Darahku mendesir, deras.

Adrenalinku kian memuncak, hiperbola ku disembarang tempat.

Berlebihan!

Mataku berlarian, binal!

Langkah kakiku terhenti di ujung bukit.

Tempat serigala berpesta, meninggalkan tulang belulang.

Dan api unggun pun belum sempat padam.

Aku ikut menari dan tenggelam di dasar plastik ciu.

Aku mabuk di cerita ku 2000 tahun yang lalu.

Hilang sudah aku, lenyap.

Berulang, terus berulang.
Purwokerto, 7 Agustus 2016

Gratefully

​Have you ever thought that human and nature have a same concept?

When you’re breathing and kissed the glass of tea on the veranda of your house.

When you give a little smile to the trees.

And the pattern of water maked love with a leaves song that gives comfort.

Honestly, I found a lot of love on it.

Inside a honesty between a human and the nature.

And the consience to their God.
Purwokerto, 5 August 2016

Mimosa Pudica

Mimosa Pudica,

Tampak malu-malu di sela jemariku.

Dia menatapku, matanya teduh.

Aku angkat dia, ku tanam di kebun belakang kepalaku.

Ku sejajarkan dengan potret Kurt Cobain dan Courtney Love.

Aku beri nama dia senja,

Karena ku tahu dia pasti kan menghilang saat langit menua.

Dan nanti aku menunggumu mulai setengah lima.

Saat mentari mulai tampak malu di ujung barat.

Aku mengetuk pintumu, di depan rumahmu di kebun belakang kepalaku.

Mungkin kau sedikit malu-malu ketika ku genggam ranting tuk mengusikmu.

Mimosa Pudica,

Aku menyentuhmu.

Membelai rambutmu.

Mengecup keningmu.

Dan di dalam langit yang mulai kelabu.

Bisik ku di sela dedaunmu.

Mimosa Pudica,

Bonne nuit, ont beau rêve.
Kebun Belakang Kepalaku, 4 Agustus 2016

Kau Memang Selalu Cantik

Dan kali ini surga jatuh di pelupuk mataku.

Tanpa sehelai kain di tubuhnya.

Telanjang bulat, perawan.

Segar, menenangkan.

Mentari pun tak sampai hati tuk menguap siang ini.

Lensa mataku bercumbu, mengecup keningnya.

Titip salam terima kasih ku untuk penciptamu.

Kau memang selalu cantik.

Kebumen, 31 Juli 2016

Di sela rerumputan dan batang pohon.

Di Setengah Lima, 30 Juli 2016

Hangat pasir putih memeluku erat.

Jauh dari umpatan-umpatan kota.

Buih busa menari di tepian.

Dan langit di lukis senja ini.

Tak ada lagi duka, tak juga bahagia.

Entah ini apa, lebih dari tenang.

Aku masih hanyut di pekatnya kopi.

Selalu saat senja.

Aku menikmatimu mulai dari setengah lima.

Bersama langit yang menua tapak kaki ku menuju koloni bintang.

Ditelan samudra dan beberapa batang rokok.

Melebur.

Kebumen, 31 Juli 2016

Tertanda

Untuk: Tuhan

Terima Kasih atas segala yang sudah Engkau ciptakan.

Dari: Fans Berat -MU

Semoga Lekas Sadar

Menari di dalam getaran. cepat menjadi cepat, terlalu cepat.

Aku menunggangi lift turun menuju ruang hampa.

Aku berjumpa dengan Mars dan binatang merayap seperti cecak.

Sial, aku parah!

Lagi-lagi di setengah lima.

Seakan-akan aku dihisap.

Menuju hilang.

Bangkai-bangkai terlihat kemerahan lalu menjadi biru dan jingga.

Permadani menuntunku menuju rimbamu.

Menonton monolog sphinx memuja liberty, mengecup keningnya di altar pemujaan.

Aku tak lagi menemukan kata yang pas untuk mengutukmu.

Sialan! Babi dan segala penghuni rimba!

Aku hampir mati kehilangan nafas saat mencumbumu.

Binal!

Aku masuk terlalu dalam diantara buah dada dan pelukanmu.

Dan di ujung persimpangan ini.

Aku berkaca, berbisik.

Semoga lekas sadar.
Purwokerto, 29 Juli 2016

Lumpuh bersama arga di riuh kepulan asap dan lift menuju antariksa.

Mau Tak Mau

Mau tak mau, senyumu menyeringai.

Mau tak mau, kopi ini menyamakan suhu.

Mau tak mau, jangkrik semakin pekat nyaringnya.

Mau tak mau, malam semakin terasa menusuk tulang.

Mau tak mau, bibir ini merangkai kata curahan.

Lelaki,

Mau tak mau kita dipertemukan lagi.

Seperti hutang yang belum di lunasi.

Yang kita tahu penggalan cerita ini tak pernah cukup dipaparkan untukmu yang telah lama tak bersua.

Aku mendambakan setiap detik seperti masa itu.

Dan hari ini, kita dicumbu nostalgia di waktu itu.

Aku dan kamu di selimuti kabut yang tenggelam.

Malam ini terlena bayangan masa depan.
Cilacap, 26 Juli 2016

Di lorong teduh tempat bertemu sorot kedua mata.

Lawan bicara ku merubah garisnya menjadi barisan kata di dalam kertas, malam ini di sebuah lorong temu di kedua sorot mata yanng teduh.

Terima Kasih

Kita Menjadi…

Di temaram lampu neon dan sisa rerintik yang hadir di jaketku.

Aroma pekat kopi hitam dan kepul asap tembakau dari bibirmu.

Aku merangkai, mengurutkan huruf demi huruf menjadikanya kata, dan memasang-masangkan mereka menjadi rentetan kalimat di teduh matamu.

Penaku menari di sudut bibirmu.

Aku menonton opera kelakarmu berpadu dengan nyanyian jangkrik.

Aku lelap di sudut, ikut menari.

Tenang, hanya ketenangan.

Memang benar puan,

Kita berada di sebuah gerbong kata.

Tak ada lagi peron dan loket karcis.

Hanya kita.

Kita berada di rumah tanpa suara, seakan kita becengkrama dalam hening.

Tak ada lagi hingar bingar dan lalu lalang.

Bahkan kehangatan beberapa pasang sejoli pun hanya angin lalu.

Kita syahdu dalam bisu.

Kau melukis tiap kataku.

Aku merangkai senyumu.

Kau mewarnai mataku dengan goresan entah apa namanya.

Aku menikmati tawamu di tiap gincu yang hadir dan membekas.

Aku berpuisi, kau mengubahnya menjadi garis.

Aku menjadi jinggamu.

Kau menjadi jemariku.

Aku menjadi matamu.

Kau menjadi telingaku.

Aku menjadi rambutmu.

Kau menjadi hidung dan kulitku.

Lalu di sisa kopi pahit dan obrolan ini,

Kita menjadi…

Cilacap, 26 Juli 2016

Di temaram lampu neon dan paduan suara jangkrik

Di Kerumunan

​Aku dikerumunan.

Terlentang,

Gelembung-gelembung mulai beterbangan.

Bebas dia bilang.

Gula-gula hadir didepanku.

Berkawan jagung bakar dan lima tusuk sate.

Ah, hari ini aku dikerumunan.

Aku masih menonton senyum polos tanpa Ibunya.

Tanpa tekanan, hanya canda.

Merangkak mencoba berjalan.

Perlahan, perlahan lalu berlari.

Aku dikerumunan,

Aku menjadi sebuah neon.

Aku dikerumunan,

Aku menjadi sebuah do’a,

Aku dikerumunan,

Aku menjadi tawa.

Aku dikerumunan,

Aku menjadi engkau.

Yang membuat spasi.

Aku menjadi pena di sela jemarimu.

Aku menjadi tali diantara lubang conversemu.

Aku menjadi gincu di tebal bibirmu.

Aku mengaduk kopi yang kau minum.

Kita berada di kacang rebus dan rimbun gelung rambutmu.

Aku di kerumunan menyentuhmu tanpa spasi.

Wahai puan yang kadang datang dan menghilang.

Aku menamakanmu syahdu,

Biarkan aku terbenam di dalam pelik dadamu.

Kita menjadi satu dalam adukan kopi,

Di kerumunan.

Cilacap, 24 Juli 2016

Di dua cangkir kopi dan bianglala.

Tengah Malam, 24 Juli 2016

​Tengah malam.

Aku berdiri di buih busa dalam kaleng bir.

Mengadah ke arah titik cahaya di antara lembaran langit.

Entah kenapa aku ingin memanggilmu Neni atau mungkin Rani.

Aku memandangmu tepat di arah jam 11.

Embun jatuh lembut di pundaku.

Malam ini ku tak mau berlari.

Kau tahu kenapa? Aku biarkan senyap menelanku.

Hanya berteman bir dan beberapa batang rokok disela barisan kata Sapardi Djoko Damono dan riuh rendahnya gumaman Syd Barrett.

Ah, mungkin ketika kau membaca barisan kataku ini kau kan menganggapku picisan. Terlalu naif, hanya merindukan ketenangan. Aku tak peduli, ku tenggak lagi kaleng bir ku.

Dan tanganku asyik mengetuk rentetan huruf menjadi kata lalu kalimat dan berakhir di sebuah titik didalam gadget pintarku.

“Hello,

Is there anybody in there?

Just nod if you can hear me.

Is there anyone at home? gumam Syd.”

Aku menutup buku tepat di Kuhentikan Hujan”

Lalu membuka pintu,

Selamat malam, lama tak bersua tenang.
Purwokerto, 24 Juli 2016 

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai