Dikepulan asap terakhir.
Puntung mencumbu asbak.
Aku menguap.
Purwokerto, 20 Juli 2016
20 Rabu Jul 2016
Posted in Puisi
Dikepulan asap terakhir.
Puntung mencumbu asbak.
Aku menguap.
Purwokerto, 20 Juli 2016
19 Selasa Jul 2016
Posted in Puisi
Aku membacamu.
Aku menghafal tarian di gemulai lentik jarimu.
Aku masuk ke dalam. Dalam, terlalu dalam.
Nayla nampak dibalik cermin.
Aku merapal Jangan Main-main Dengan Kelaminmu.
Tubuh Nayla di ujung batangku. Aku binal, panggil aku jalang!
Aku tumbuh di tubuh Nayla.
Djenar memicing kearahku.
“Ah, terimakasih. kataku.”
Puan, malam ini surga di pahamu.
Purwokerto, 20 Juli 2016
18 Senin Jul 2016
Posted in Puisi
Didalam adukan kopi hitam dan kepulan asap rokoku.
Antara Purwokerto hingga Banjarnegara.
lensa mataku blur, separuh bayangku masih melamun di ujung jembatan Wirasaba.
Ketenangan ini, aku rindu.
Mengistirahatkan nalar ku yang mulai lelah, usang dilalap waktu.
Melepas baju perangku, membasuh semua peluh.
Beristirahat,
Jauh dari raungan knalpot dan hingar bingar pertokoan.
Tak lagi beradu dengan sombongnya kota.
Hanya berteman nyanyian jangkrik dan para penghuni kolam belakang.
Diantara temaram lampu neon dan udara malam.
Demi jalan setapak, semak belukar dan deretan bambu di tepian.
Benamkan aku wahai alam, buai aku dengan damaimu.
Biarkan aku terlelap, biarkan aku terlelap.
Lelap.
Banjarnegara, 12 Juli 2016
18 Senin Jul 2016
Posted in Cerpen
Petang ini, tubuhku masih membeku diantara langkah-langkah kota. Diceracau corong knalpot yang meraung-raung. Seperti marah, seperti gelisah. Semua seakan terburu-buru berebut piala. Berebut cawan kemenangan. Ah, aku hanya seorang binal. Menjual tubuhku, peluhku, suaraku, tangisku bahkan tawaku hanya sekedar tuk mengisi bagian dari lambungku. Aku hanya bisa berjalan di setapak, tak sempat berlari di antara gedung-gedung bertingkat itu. Jangankan berlari, membayangkan merangkak disana pun tidak.
Angan impiku sesekali tersaut laju bus kota, merebahkan pundak pada bangku yang berpuluh tahun silam menjadi tempat temu antara peluh derasmu usai memetik senar gitar dan tawa kekanakanku yang seolah begitu menikmati hidup. Disana anganku rebah barang sejenak. Meskipun tulang belakangku tak sanggup duduk berlama, seketika itu aku akan menjelma sebuah kaca pada jendela bus kota. Sebenarnya apa yang orang lain pandang dari dalam ruang bermesin dengan aroma setiap penumpang yang berbeda. Badanku basah. Seperti ada yang meneteskan sesuatu tepat di pundaku. Hangat dan teratur. Astaga, rupanya seorang perempuan tengah menyandarkan kepalanya pada pundaku. Ayu betul perangaianya walau tanpa bedak dan gincu di pipi dan bibir tipisnya. Hanya air mata mengalir dari pelupuk mata yang dapat kupastikan telah terjaga antara dua malam. Lalu mengapa ia melakukanya, menyandarkan kepalanya tepat di pundaku dengan isak yang semakin membuatku ingin merengkuhnya barang sebentar. Paling tidak membuatnya tahu, ada seorang yang tengah memperhatikanya dari dekat. Berhentilah menangis, puan.
“ Asu! Batinku.”
Mengapa aku harus berada disituasi seperti ini? Mungkin beberapa pasang mata memang memperhatikan kami sedari tadi. Mungkin ibu gendut bergincu tebal yang duduk dipojok itu beranggapan bahwa kami adalah sepasang pasutri yang sedang bertengkar merebutkan hak asuh anak. Seperti pasangan selebriti di acara gosip yang ku lihat tadi pagi. Atau si sopir yang sedari tadi melirikku dari kaca spionya. Mungkin dia berpikir aku adalah pecundang yang sudah menduakanya. Ah, kenapa situasi seakan menyudutkanku? Beribu pertanyaan berkecamuk di kepalaku untuk keluar dari situasi ini, memang. Tapi lidahku seakan kelu, kini aku mendapat alasan bahwa lidah itu sebenarnya bertulang. Tulang lidahku remuk, tak satu katapun bisa keluar dari mulutku. Aku masih kelimpungan mencari kata yang pas tuk mencairkan situasi ini. Perlahan perempuan itu bisa menghentikan tangisanya, namun ia masih sesenggukan. Ku ambil sapu tanganku dari kantong belakang celana.
“Silahkan dik mungkin bisa membantu, kataku.”
“Terima kasih mas, maaf merepotkan. balasnya terbata-bata.”
“Ndak papa, sudah diambil saja, jawabku.”
Perempuan itu mengusap pipi yang sedaritadi sudah basah, melebihi basah di pundakku yang berkaos biru serupa perasaanya saat ini, mungkin. Laju bus kota telah mampir di satu terminal dan belum kuketahui jelas tersebab apa perempuan disampingku tersedu sedan sejadi-jadinya. Aku lelah menjadi kaca dan merebahkan punggung kembali pada bangku yang kali ini telah diduduki si puan mendayu, tanpa bedak dan gincu di wajah sintalnya. Badanku menyebelahi dengan tanpa maksud menyudahi. Percayalah ini hanya persoalan keluluhan hati tuan-tuan. Ya, melihat perempuan menangis hanya persoalan keluluhan hati dan aku ingin mengenalnya lebih jauh. Ia tertidur pulas, seingatku tangisan adalah penghantar tidur paling mujarab untuk menuju pulas. Waktu usiaku baru 7, teman-teman sering mengajaku menonton sabung ayam. Permainan itu begitu mengelabuhi otak bapak-bapak di dusun kami yang memiliki ayam jago. Entah siapa yang memulai, seperti tetiba menjadi permainan yang mentradisi. Aku tak mengerti apa alasan mereka menyabung ayamnya lalu menyiapkan duit jaga-jaga barangkali ayam terjagonya kalah dan duit di balik saku celananya akan dikeluarkan paksa untuk merayakan kekalahan tersebut. Sungguh aku tak mengerti.
Aku hanya menonton dengan terpaksa melalui ajakan kawan yang harus dituruti. Tepuk tangan dari penonton saling beradu, mengadu sepasang jago dihadapanya. Keras. Riuh. Sesekali mengangetkan. “plaaaakk!!” sialan, tangan siapa berani menyabet pantatku. Aku mengumpat sembari memalingkan pandang ke belakang. Kali ini mataku sejajar dengan dadanya. “mampus matilah kau” batinku bertambah ketika kusadari sabetan itu milik emakku. Belum sempat aku berpamit dengan kawanku, emak sudah menyeret separuh tubuhku menuju rumah. Aku menggeram, menangis sejadi-jadinya dan membenamkan wajahku pada bantal. Lalu tertidur. Pulas. Barangkali begitu gambaran lelap perempuan di sebelahku. Selamat tidur, puan. Aku mengusapnya lewat batin.
Di setengah lima sore itu, kereta pengantar ceritaku ini berhenti di sarangnya. Terminal Bulupitu, ya terminal di sebuah kota kecil bernama purwokerto. Dan nampaknya perempuan tadi masih berada di mimpinya, terlelap sangat dalam. Aku menatap muka polosnya dalam-dalam. Seperti ada magnet di matanya. Sayu, teduh tepatnya. Ada sedikit guratan-guratan disekitar kelopak matanya. Ah, mungkin perjalananya memang melelahkan sebelum dia masuk ke dalam bus ini. Sebelum aku menerka-nerka lebih jauh sebaiknya ku bangunkan saja dia.
“Dik, ayo bangun. Sudah sampai di terminal. Kataku.”
“Iya maaf mas, tidurku terlalu pulas. Katanya sambil mengusap mata sembab nan teduh itu.”
“Mari dik, kita ke warung depan. Aku traktir makan atau minum-minum sembari menunggu hujan reda. ajaku”
“Tak usah mas, saya ndak enak. Nanti malah merepotkanmu mas. Saya tunggu didepan terminal. Tolak nya halus.”
“Ndakpapa dik, masih deras hujanya loh. desakku,”
“Ndak usah mas, ndak usah. tolaknya lagi.”
Dan kini perempuan tadi berjalan keluar dari bus dan melangkah cepat menerobos hujan.
Petang ini nampaknya hujan selaras dengan perasaan si puan. Hujan meluncur deras di jalan, begitu jua di dalam puan. Aku tak sanggup menerka seberapa petir menyambar ikut merangsek di ulu hatinya. Dan harus ku akui memang aku terlalu lugu menghadapi situasi seperti ini. Begitu mudahnya aku terbuai suasana dan pesona hujan didalam bus tadi, aku lupa jikalau aku hanyalah kaca. Kaca yang hanya menjadi tempat singgah embun buah si hujan.
Tetiba mataku memicing kearah si perempuan berdiri. Dari bahunya sempat muncul berapa kali guncangan disertai isak. Ia berdiri, terhuyung. Kemudian jongkok. Dan seketeika aku melihat seorang laki-laki sedang mengecup kening perempuan dihadapanya. Aku mengembalikan pandang ke arah si puan berjongkok menahan guncangan. Jadi, lelaki itu alasan mengapa si puan terisak sedaritadi. Mungkin saat ini ia sedang merapal mantra dalam hati, dengan sisa tenaga yang ia miliki. Dua tetes bulir bertemu didalam rimba hujan. Mantra itu tak bisa kudengar jelas. Lirih. Teramat.
Purwokerto, 18 Juli 2016
Diantara remah roti dan tiga cangkir kopi.
Cerita ini ditulis dari obrolan santai 3 orang muda-mudi di sebuah galeri seni milik Kang Rahmat. Ditemani 3 cangkir kopi dan sepiring roti bruschetta buatan pemilik galeri. Lalu jari-jari kami dengan gemulai merapal mantra pada keyboard laptop. Sembah suwun untuk mbak inakusumawati.wordpress.com juga mas putu (yang nama blognya belum saya ketahui, hehehe) terimakasih telah melibatkan jari-jari kalian dalam mantra si puan.
Salam!
11 Senin Jul 2016
Posted in Puisi
Pagi ini, di pukul sembilan.
Angkuh mentari dengan batang hidungnya.
Dan aku sudah terduduk di peron stasiun menunggumu.
Ah, perasaan ini. Lama tak ku jumpai.
Merah, biru, hijau, kuning dan lainya bercampur di kepalaku.
Sejujurnya aku canggung.
Ah kau puan, masih saja aku terjebak di rimba rambutmu.
Dengan segelas kopi hitam dan sebatang rokok, aku mengatur nafas.
Satu, dua, tiga.
Kereta datang, jantungku berhenti.
Hei apa kabar?
Purwokerto, 10 Juli 2016
11 Senin Jul 2016
Posted in Puisi
Diantara remah roti dan kepingan koin.
Mengais sisa-sisa zaman, kering aku dihisap waktu.
Ah, andai buku dongeng dan rekuiem pengantar tidur itu tak hilang.
Pasti ku tak sebanal ini.
Dengan mata nanar memerah darah dan peluh disepanjang selokan ku. Terseok-seok hampir lumpuh nalarku.
Satu-dua, dua-tiga, tiga-satu, dan terus berulang.
Gila ! Habis aku di dalam lingkaran setan.
Menjadi sadar adalah kesalahan terbesar, binal!
Sejujurnya aku tak mau menyalahkan keadaan. Tapi mengapa?
Mengapa dunia menjadi sesempit ini?
Aku terduduk dipojokan gang beraroma ciu dan bangkai.
Diasingkan.
Cilacap, 9 Juli 2016
26 Minggu Jun 2016
Posted in Puisi
Aku sadar mataku tak bisa membedakan mana hitam mana putih atau jingga.
Terkadang gelap pun ku anggap sebagai terang.
Aku tak tahu mana depan mana belakang, mana pagi mana petang.
Aku ragu ketika memilih kanan atau kiri.
Semuanya blur, entah lelaki, wanita bahkan waria.
Aku tersesat di dalam asbak. Diantara puntung rokok dan hingar bingar bara beraroma nikotin.
Di dalam plastik ciu dan ceceran sampah aku berteriak.
Dimana kacamataku? Dimana?
Beri aku kacamata! Beri aku kacamata! Beri aku!
Purwokerto, 27 Juni 2016
26 Minggu Jun 2016
Posted in Puisi
Di setapak yang teduh.
Mentari pun masih malu-malu di penghujung minggu.
Langkahku pelan memasuki pelataran.
Sandarkan imaji yang sempat liar.
Aku terduduk diberanda.
Menonton opera melankolia di ujung kuku.
Di ujung itu masih lekat aromamu.
Dan dengan separuh tubuh yang masih tersesat di rimba rambutmu.
Seakan berkaca didalam perigi.
Tenggelam, aku hilang.
Purwokerto, 19 Juni 2016
26 Minggu Jun 2016
Posted in Puisi
Tubuhku rebah, diantara mesranya senja dan pelataran.
Anganku pun ikut melayang.
Aku terbius, mataku terpejam.
Lidahku kaku seakan dikoyak sembilu.
Ah, aku tak pernah segila ini.
Sepertinya separuh tubuhku masih tersesat diantara helai rambut si puan.
Simpul ini terlalu kusut, aku tersesat di rimbanya.
Senja mulai menua. Langit nampak bersiap memakai jubahnya.
Sesaat aku sadar,
Sepertinya kau bersekongkol dengan si Chopin.
Membuai ku dengan irama-irama Nocturne C#m nya.
Aku semakin terlelap dalam buai.
Rupanya kini sang arus sudah menemukan dimana hulunya.
Mungkin sepertinya aku harus tertidur dengan separuh tubuh yang masih tersesat disana.
Di tengah rimba rambut perempuan dengan terusan selutut bermotif bunga.
Selamat malam puan.
Purwokerto, 13 Juni 2016
26 Minggu Jun 2016
Posted in Uncategorized
Diantara langit-langit aku melukis langit.
Di dalam merah mataku ku temukan hijau, biru, jingga, oranye bahkan merah marun. Tapi tak ada abu-abu disitu.
Tak ada..
Semesra gulungan ombak mengecup sang karang.
Aku menamaimu gula-gula.
Atau remah roti jahe.
Kadang aku menjumpaimu di kamar mandi, dalam bentuk odol.
Aku sering melihatmu di dalam pekatnya kopi.
Di dalam dada wanita, di puncak jakun pejantan atau di tiap polesan gincu para waria.
Atau senandung kecil diantara rimbunan tukang kaset bajakan di emperan.
Aku menjamahmu di setiap mantra,
Om / Siu To Li / Siu Mo Li / So Po Ho.
Mensucikan setiap raga.
Aku menikmatimu di setengah lima. Di tiap kepulan yang mengudara.
Mengobati rongga-rongga yang penuh luka.
Sembari berkelakar, mencaci para omnivora.
Purwokerto, 13 Juni 2016